Parenting

Anak Sering Tidak Mendengarkan Perintah? Bunda Tidak Sendiri! Ini 20 Cara Mendidik Anak Supaya Mendengar Perintah

alvaro-reyes-492359

Berbagai macam teori cara mendidik anak sudah Bunda terapkan, anehnya tak satupun dari perintah Bunda yang didengar. Jangan merasa patah arang bun, sebab faktanya bunda tak sendirian.

Yaap, perkaran ini sepertinya menjadi masalah utama orang tua jaman sekarang. Tapi sebagai orangtua kita juga tak boleh terlalu lembek dalam hal mengajar si kecil. Sebab biar bagaimanapun, terus menerus mengikuti keinginan mereka itu akan membuatnya manja.

Lalu, harus bagaimana cara mendidik anak agar mereka mau mendengar perintah Bunda?

edward-cisneros-415590

 

Demi Meyakinkan Jika Bunda Maksud Adalah Dirinya, Cobalah Bunda Panggil Namanya

Tak perlu dijelaskan lagi, bunda tentu paham jika berteriak bukanlah sikap yang baik dalam hal mendidik anak. Tak hanya kesan kasar yang akan terdengar, suara yang terlalu kantang hanya akan meningkatkan emosi. Sebab meski mereka masih kecil, untuk urusan diperlakukan mereka memiliki rasa yang sama. Bunda juga tentu tak mau kan, jika tiba-tiba atasan di kantor berteriak hanya karena masalah sepele? nah anak pun demikian.

Trik sederhananya, pastikan bunda memanggil nama mereka, baik disaat mereka sedang bermain atau kegiatan lain. Dan ketika ia yang dipanggil menoleh dan memerhatikan bunda, katakan apa yang unda mau dari mereka. Ini jauh lebih baik daripada harus berteriak dan memanggil namanya.

Sama Halnya dengan Orangtua, Ada Kalanya Mereka Juga Ingin Didengarkan Oleh Kita

Bunda perlu ingat, jika kita adalah orangtua dari mereka jangan bertindak seperti atasan kepadda bawahan yang sering sekali tak mau mendengar keluhan. Ketika bunda memintanya untuk melakukan sesuatu, namun sepertinya ia mengalami kesulitan atau kendala, cobalah siapkan sedikit waktu untuk mendengar keluhan yang ingin ia sampaikan.

Cobalah untuk lebih peka, barangkali mereka memang sedang capek belajar, sedang tidak enak hati dengan suasana sekolah, misalnya, atau masalah apa saja yang mereka alami.

Sebab mau mendengarkan, adalah kunci dari cara mendidik anak yang baik. Jika bunda menunjukkan sikap mau mendengar keluhan mereka, atau menangkap kesan bahwa mereka sedang kesal dengan masalah mereka, maka mereka pun akan melakukan hal yang sama, yakni mendengar perintah bunda.

Isyaratkan Kesungguhan Bunda dengan Kontak Mata yang Baik Kepadanya

Mungkin bunda pernah lihat, ada satu anak yang akan langsung mengerti ketika orangtuanya memberi perintah hanya dengan memandangnya saja. Nah, ini jadi salah satu alternatif lain yang bisa kita lakukan juga loh bun.

Karena adanya kontak mata juga menandakan, jika kita bersungguh-sungguh terhadap apa yang diucapkan. Hanya cukup dengan menatap matanya, anak pun merasa mendapat perhatian dan keberadaannya begitu penting.

Akan tetapi bunda juga perlu jika, teguran dan perintah yang dimaksud sebaiknya disampaikan dengan kalimat-kalimat positif. Dengan demikian anak akan menganggap apa yang baru saja kita sampaikan memang benar-benar penting.  Misalnya, dalam rangka menegur perbuatan salahnya, kontak mata pun tetap diperlukan manakala orangtua dan anak berdialog biasa.

Dan hal ini juga bisa bunda pakai saat sedang ingin memberi perintah, atau menanyakan sesuatu kepada dirinya.

Usianya yang Masih Belia, Tak Memungkinkan Untuk Memahami Kalimat-kalimat yang Sukar, Usahakan Untuk Memakai Kalimat yang Pendek ya Bun!

Bunda tak perlu memakai bahasa atau kalimat-kalimat perumpamaan, pakailah kalimat atau kata yang tidak terlalu panjang dan sederhana namun bermakna.

Dan demi mencapai titik penyampaian yang baik, sesekali perhatikan bagaimana ia berkomunikasi dengan teman sebayanya. Cermatilah caranya, bila anak memperlihatkan gejala bahwa dirinya tak berminat diajak ngobrol, boleh jadi itu karena ucapan kita tak dipahaminya entah karena bertele-tele, atau karena berupa kalimat-kalimat perintah dan melarang.

Karena semakin kita bertele-tele, maka anak akan semakin menutup telinganya dan tak mau mendengar apa yang ingin kita sampaikan kepadanya.

Teknik Lain yang Perlu Bunda Perhatikan Adalah Posisi Badan yang Memang Harus Sejajar dengan Dirinya 

Misalnya bunda sedang berada di kursi ruang makan, sedang ia sedang asyik menonton di depan televisi. Dengan alasan kepentingan sesuatu bunda berteriak dari belakang dan memintanya melakukan sesuatu. Hal-hal seperti ini kadang jadi penghalang komunikasi, sebab ia tak bisa melihat ekspresi bunda ketika menyampikan itu kepadanya.

Posisikan badan kita sejajar dengan tinggi badannya,  dan jangan terlalu jauh darinya. Dengan begitu, perhatian anak bisa lebih mudah terfokus dan menangkap pesan atau dialog yang dilontarkan orangtua. Jika anak terlihat tidak memerhatikan, sentuhlah dia untuk menarik perhatiannya. Sikap itu menunjukkan keseriusan kita dalam berkomunikasi. Kalau perlu, bunda boleh mendekap anak saat kita mengajaknya berbicara.

Teknik Lain Untuk Mengajarinya Memahami Sesuatu Adalah dengan Menyampaikan Peraturan dalam Bentuk Ajakan Bukan Perintah yang Terkesan Paksaan

Ini jadi sesuatu yang terbilang cukup mudah, dan tentu akan lebih bisa diterima oleh dirinya. Bunda boleh berkreasi dengan kata dan kalimat apa saja. Selama tak terdengar sebagai paksaan, dengan senang hati ia akan melakukan.

Misalnya sebagai ganti dari ucapanmu ”Setelah bermain bereskan kembali mainanmu ” bisa diganti dengan  ”Kakak, mau bantu bunda tidak? kalau mau yuk simpan lagi mainannya”. Dengan perkataan semacam ini, anak tidak akan merasa sebagai objek perintah tetapi dia merasa diperhatikan dan menjadi subjek. Dirinya merasa bahwa ada upaya yang ternyaata melibatkan perannya, sehingga ia akan mempunyai rasa tanggung jawab terhadap barang-barangnya.

Jelaskan Aturan-aturan Tersebut Kepadanya dengan Cara yang Baik, Sembari Membimbingnya Agar Lebih Memahami Dia

Pemahaman ini memang membutuhkan kemampuan bunda untuk mengeksplorasi hal-hal dan kalimat baru yang enak didengar. Darinya kita mungkin akan lebih belajar bagaimana memahami dirinya yang benar, jika sudah merasa menemukan caranya mungkin bunda akn lebih mudah untuk menyampaikan komunikasi kepada dirinya.

Misalnya nih, setelah sibuk bermain dan mengacaukan rumah, sebagai ganti dari kalimat “Semuanya jadi berantakankan, udah simpan mainannya” dengan “Kakak suka nggak kalau mainannya rapih? kalau suka diberesin lagi ya” nah jika ternyata ia masih menolak bunda boleh menawarkan bantuan kepadanya “Yaudah, bunda bantuin ya”. Hal-hal sederhana seperti ini akan memicunya mengikuti apa yang kita telah tunjukkan.

Jika Ia Berbuat Salah, Bunda Jangan Pernah Menyalahkan Pribadinya, Tapi Jelaskan Bahwa Sikap Seperti Itu Tak Boleh Diulangi Lagi Oleh Dirinya  

Ini memang jelas jadi sesuatu yang tidak bisa disama ratakan, karena biar bagaimanapun perbuatan yang salah tak melulu berarti ia juga harus disalahkan.

Misalnya ketika ia menjatuhkan sesuatu barang dari atas rak meja, kalimat “Tuh kan gara-gara kamu jatuh jatuh dan pecah” bisa bunda gantikan dengan kalimat “Yah, padahal kalau adek lebih hati-hati pasti nggak jatuh. Lain kali lihat-lihat dulu ya” 

Hal lain yang perlu bunda juga hindari adalah,  berujar dengan kalimat yang bernama memojokkan dirinya. Menyebutnya Bodoh, malas, atau tak bisa apa-apa. Kalimat-kalimat seperti ini hanya akan membuatnya rendah diri, dan berpikir bahwa ia tak dihargai.

Mereka Memang Masih Kecil, Tapi Bunda Perlu Juga Untuk Menggargai Setiap Keinginan-keinginan yang Mereka Inginkan

Suatu waktu, si kecil juga mungkin akan memiliki keinginan yang mungkin akan disampaikan kepada kita. Meminta mainan baru, ingin bermain dengan suasana yang berbeda, hingga hal lain yang jadi keinginnya.

Dan untuk mengganti kalimat larangan yang sebenarnya tak boleh, alangkah lebih baik jika bunda akan berujar “Kakak boleh pilih mainan yang mana saja, tapi untuk kali ini satu dulu ya. nanti lain kali kita ke sini lagi” sebab ini akan terdengar jauh lebih baik daripada “Pilih satu saja, jangan banyak-banyak”, atau bunda juga boleh membuat sebuah kesepakatan dengannya, sesaat sebelum akan pergi, beritahu ia jika apapun yang akan diingininya nanti, ia hanya boleh meminta satu saja, tak boleh lebih.

Tak hanya membuatnya belajar berjanji, ini juga akan memberinya pengertian bahwa biar bagaimanapun sebagai orangtua kita akan selalu mengerti keinginan hatinya.

Dan dari Sikap Tidak Taatnya, Boleh Jadi Ada Sesuatu yang Sedang Ia Alami

Sama halnya seperti kita sedang tak enak hati, meski apapun kata orang kadang kita lebih memilih diam. Bukan karena tak suka namun sesuatu yang mengganjal dihati lebih berat. Nah, hal yang sama mungkin juga sedang ia rasakan.

Cobalah sediakan waktu sebentar untuk lebih mengerti ia, tanyakan apa yang sedang terjadi dan mengapa ia tak mau mendengar bunda berbicara. Sikap dan kalimat yang baik akan membuatnya berbicara dan menyampaikan semua keluh kesah. Dengan begitu bunda bisa membaca jika ternyata ada sesuatu yang sedang ia rasakan.

Selanjutnya Hal yang Bunda Perlu Hindari Adalah, Mengajarnya dengan Cara Mengancam atau Menyuap dengan Imbalan

Satu kali si kecil mungkin akan takut, karena merasa akan menerima hukuman jika tidak melakukan apa yang bunda perintahkan. Namun jika terus meneru dilakukan tentu tak akan merubahnya jadi lebih baik juga. Dan begitu pula dengan imbalan atau suap berupa hal-hal yang mereka inginkan. Misalnya, “Kalau kamu beresin mainan bunda kasih uang”, dengan begitu apa yang dilakukan bisa jadi semata-mata demi uang. Bukan karena merasa bertanggung jawab atas mainan yang berantakan.

Demi Rasa Dihargai, Sesekali Pujilah Ia  Atas Segala yang Telah Dilakukannya

Semua orang tentu akan senang sekali jika, apa kerja keras atau upaya yang ia lakukan mendapat pujian atau apresiasi dari orang lain. Maka untuk itu, setelah berhasil melakukan apa  yang bunda minta berilah sepatah-dua patah kata yang berisi pujian atas apa yang ia telah kerjakan.

Misalnya “Anak yang rajin, bunda bangga deh sama kakak” Isyarat rasa bangga yang bunda sampaikan akan jadi sesuatu yang ia ingat selalu. Dengan begitu suatu waktu ia akan jauh lebih termotivasi lagi utnuk melakukan hal-hal yang sedang bunda ingin perintahkan.

Dan Bunda Juga Perlu Untuk Memahami dan Mengetahu Sejauh Mana Ia Mampu Memahami Sesuatu yang Kita Sampaikan

Hal ini jelas tak bisa bunda samakan, sebab setiap anak memiliki kemampuan memahami yang berbeda-beda. Bunda mungkin berpikir jika anak si anu mengerti dengan cukup begini, lalu mengapa anakku tidak ya? Ini adalah salah satu pemikiran yang keliru bun.

Setiap anak datang dan lahir dengan cerita yang berbeda.Untuk itu bunda perlu menakar sejauh mana ia memahami apa yang akan bunda sampaikan. Misalnya, bunda akan bertanya “Kenapa kakak berantakan semua mainannya?” barangkali akan, lebih baik jika diganti dengan pertanyaan “Bunda, mau tahu dong tadi kakak ngapain aja sampai mainannya dikeluarin semua?” 

Sebab kalimat-kalimat menghakimi, dan mengancam atau menuduh, hanya akan membuat anak merasa terpojok. Dan memang ini tak hanya memahami ia saja, kita juga perlu belajar untuk mengekplorasi kemampuan berbahasa.

Hindari Juga Untuk Memberinya Pertanyaan yang Akan Memicunya Menjawab dengan Kalimat “Tidak”

Misalnya bunda akan bilang, “Mau nggak beresin mainannya?” mulai sekarang mungkin bisa digantikan dengan , “Sayang deh kalau mainannya berantakan di mana-mana. Kita bereskan yuk kak!” Ingat bun, anak tak mau diperintah. Jadi daripada mengatakan, “Awas, makan jangan sampai berantakan, ya. Habis makan, taruh piring di tempat cucian,” lebih baik ucapkan, “Kak, ayo tebak dimana coba kamu harusnya menyimpan piring ini?” Terdengar menjadi sebuah pertanyaan, tak hanya berasa sedang ebrmain ia juga belajar untuk berpikir mencari solusi.

Berbicaralah dengan kalimat-kalimat yang tak sekadar menjurus pada jawaban ya atau tidak bun. Misalnya contoh lain itu dengan, “Senang di sekolah tadi?” menjadi kalimat yang lebih bijak seperti, “Tadi mainan apa yang seru di sekolah?” Setelah itu, bicarakan topik-topik yang menarik bagi dirinya.

Untuk Meminta dan Menyampaikan Sesuatu Bunda Juga Perlu Tahu Kapan Momen yang Tepat Untuk Itu

Jangan main asal perintah ya bun, bunda perlu menunggu momen yang tepat. Perhatikan, apakah anak sedang asyik dengan kegiatannya? Kalau memang iya, mungkin percuma saja mengajaknya bicara. Lebih bijak kalau kita tunggu dulu sejenak, sampai setidaknya ia tak sibuk-sibuk amat atau sudah menyelesaikan aktivitasnya.

Kadang, sulit mengalihkan perhatian anak dari hal yang sedang ditekuninya. Kalau dia sedang asyik main mobil-mobilan, jangan langsung diinterupsi. Mulailah dengan pendekatan dulu agar anak tak merasa kegiatannya diganggu atau tak dipaksa menimpali omongan kita. Apalagi kalau yang dikatakan orangtua berupa perintah atau larangan.

Beri waktu beberapa menit sebelum meminta anak melakukan sesuatu. Contoh, “kak, kalau jarum jam yang pendek menunjuk angka 12, kamu makan ya. Setelah makan, kamu boleh main lagi.” Dengan begitu ia tak merasa aktivitasnya terganggu. Lagi pula, dengan cara itu anak memiliki persiapan ketika harus menghentikan kegiatannya loh bun.

Jangan Pelit Untuk Berkata “Tolong” dan “Terimakasih”

Faktanya, ini tak hanya untuk mereka yang dewasa saja, ajarlah anak sedari kecil untuk tak enggan berucap “Tolong” dan “Terimakasih”.

Berbicaralah kepada anak dengan cara seperti yang kita harapkan jika orang lain berbicara kepada kita. Jika hendak minta bantuan, yang pertama kali harus diucapkan adalah “tolong”, bukan? Niscaya anak tak merasa dipaksa saat diperintah. Ini jadi ajang lain untuk menunjukkan sikap bahwa meski sebagai orang tua, kita juga menunjukkan sikap yang sama dengan berkata “Tolong” dan “Terimakasih”. 

Demi Pemahaman yang Lebih Mudah Disampaikan, Bunda Juga Harus Memberinya Contoh Nyata yang Bisa Ditiru Olehnya

Dan memang benar, sebaik-baiknya contoh yang akan memudahkan dirinya untuk belajar adalah kita sebagai orang tua.

Bunda harus ajarkan bagaimana pentingnya mendengarkan, jika anak merasa dirinya didengar, maka ia pun akan belajar mendengarkan kita sebagai orang tua yang memberi perintah kepadanya. Berilah contoh atau teladan yang baik dengan memberi perhatian yang tulus saat si kecil berbicara.

Dengan contoh yang konkrit anak akan menyerap dan meniru bagaimana menjadi pendengar yang baik untuk orang lain.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Bunda yang Sedang Hamil, Ketika Tidur Usahakan Miring Ke Kiri Ya

pexels-photo-1464822

Selama kehamilan Bunda mungkin dilanda kecemasan karena khawatir terjadi sesuatu pada bayi dalam kandungan karena kesalahan perilaku. Karena itu kemudian Bunda berlaku sangat berhati-hati dalam melakukan segala sesuatu.

Setelah si kecil lahir, bukan berarti perasaan langsung lega begitu saja. Bunda lagi-lagi merasa cemas melakukan kekeliruan dalam merawat si kecil. Semua hal itu wajar dan tak perlu panik ya Bunda.

Sebab semua orang tua pasti ingin yang terbaik bagi anaknya. Namun kebanyakan dari kita tidak punya pengetahuan yang cukup untuk menangani bayi yang baru lahir. Karena itu Bunda dilanda kecemasan soal hal ini.

Nah mari coba menenangkan diri ya Bunda, setidaknya ada beberapa hal yang menjadi dasar penting yang wajib bunda kuasai dalam hal merawat bayi yang baru lahir. Dengan melakukannya sesuai petunjuk, si kecil akan baik-baik saja dan Bunda akan membantunya dalam perkembangannya di kemudian hari kelak.

Selama Tali Pusat Belum Puput, Harus Dirawat Ya Bunda

newborn-1399193_640

Tali pusat jadi bagian penting dari bayi ketika dalam kandungan karena organ ini menjadi sumber makanan dan mengalirkan oksigen dari Bunda. Setelah bayi lahir, tali pusat yang tadinya jadi penghubung oksigen dari bunda pada bayi akan dipotong sekitar 2 sampai 3 cm. Sisa tali pusat nantinya akan puput dengan sendirinya.

Meski akan puput secara alami, ada hal penting yang harus Bunda perhatikan ketika menanganinya. Gusti Ayu Puspita Devi S.Keb, seorang Bidan yang sudah mengedukasi lebih dari 1.000 bayi menuturkan bahwa selama tali pusat belum puput, bunda disarankan untuk tetap memastikan tali pusat tetap bersih dan kering. Sebisa mungkin mandikan bayi dengan washlap atau spons. Hindari pula memandikan bayi ke dalam bak mandi yang airnya penuh, agar tali pusat tidak terendam air.

Sebab hal ini akan mengakibatkan tali pusat basah dan lembap, yang tidak baik untuk kesehatan si Bayi. Hindari pula untuk membersihkan tali pusat dengan sabun atau cairan antiseptik lainnya. Seusai mandi, keringkan tali pusat dengan kain bersih dan balut dengan kain kasa yang steril.

Selanjutnya bunda juga perlu memastikan pemasangan popok. Pastikan jika tali pusat tak akan terkena air seni dan tinja untuk menghindari infeksi pada tali pusat. Jangan pula menarik tali pusat dengan paksa, karena ini bisa menyebabkan pendarahan pada pusat. Biarkan ia kering dan puput dengan sendirinya, dengan memastikan tali pusat tetap bersih dan tidak basah.

Bayi Boleh Dipijat Dari Usia 0, Tapi…

Mother massaging her child's foot, shallow focus

Faktanya pemijatan pada bayi dapat dilakukan sejak bayi baru lahir, dari usia 0 hingga 3 tahun. Namun alangkah lebih baik, jika dilakukan pada masa 6 atau 7 bulan kehidupannya. Dengan catatan, si kecil sedang dalam kondisi baik dan stabil dari segi medis.

Bunda bisa memberikan sentuhan-sentuhan lembut untuk memijatnya. Bunda juga boleh melakukannya dengan penyertaan komunikasi secara verbal kepada dirinya sebagai bentuk cinta kasih. Hal ini akan jadi salah satu cara untuk meningkatkan bonding antara bunda dan bayi.

Stimulasi ini akan jadi pengaruh baik yang akan mendukung tumbuh kembang si kecil. Mulai dari meningkatkan sistem imunitas tubuh, membantu bayi belajar rileksasi, serta meningkatkan kualitas dan kuantitas tidur miliknya.

Bayi Boleh Dimandikan, Tapi Jangan Terlalu Sering

279228-P5UI7Z-794

Tak ada patokan pasti, sebaiknya berapa kali bayi dimandikan dalam sehari. Ada yang 2 kali sehari, dan ada pula yang 1 kali sehari. Atau pagi hari dimandikan, sorenya cukup diseka saja.

Namun yang utama beberapa ahli pun menganjurkan untuk memandikan bayi 2 hingga 3 kali per minggu. Dan frekuensinya bisa ditingkatkan, seiring bertambahnya usia.

Caranya? Setidaknya ada 3 cara yang biasa digunakan oleh beberapa perawat, untuk memandikan bayi yang baru saja lahir. Pertama dengan memakai washlap dan diusapkan ke Bayi. Kedua memandikan bayi dengan dicelupkan ke bak mandi. Sedangkan ketiga memandikan bayi dengan dibedong menggunakan selimut. Bunda boleh memilih. Kira-kira cara mana yang paling sesuai untuk bunda lakukan pada si kecil sesuai dengan kebutuhan.

Meski tata cara memandikannya berbeda, hal lain yang perlu dilakukan dalam proses memandikan hampir serupa untuk ketiga tekniknya. Diawali dengan membersihkan area mata dari dalam keluar, mulut, dan membersihkan wajah bayi hingga ke kepala sampai ujung kakinya. Selanjutnya, bunda boleh mengeringkan bayi dengan menggunakan handuk berbahan lembut.

Hal Lain yang Juga Perlu Bunda Perhatikan Adalah Tata Cara Mengganti Popok yang Sesuai Anjuran

pexels-photo-1556706

Sekilas kegiatan ini mungkin terlihat sepele, karena dalam bayangan bunda mungkin mengganti popok hanyalah membuka dan memasang pakaian bawah pada tubunya si kecil saja. Tapi, untuk mengganti popok pada bayi baru lahir beda loh bun.

Karena setidaknya ada beberapa hal yang bunda perlu siapkan, mulai dari matras pelapis, popok yang bersih, wadah berisi air hangat, kapas untuk membersihkan bokong bayi dan baby cream.

Mulailah dengan meletakkan si kecil di atas matras dengan memastikan posisinya aman. Lepaskan popok yang ia kenakan, lalu bersihkan bagian pinggang kebawah menggunakan kapas yang dibasahi dengan air hangat dari depan ke belakang. Keringkan bagian lipatan bokongnya dengan handuk bersih dan oleskan baby cream.

Selanjutnya, pasang popok yang bersih dengan posisi menutupi bokong dan tubuh bagian depan dengan baik, lalu ikat tali popok dengan tidak terlalu longgar tapi juga tidak terlalu kencang.

Jika Masih Dirasa Kurang, Bunda Juga Boleh Belajar Tentang Cara Perawatan Bayi yang Baru Lahir Lainnya dari Para Ahli di Bidangnya

pexels-photo-789786

Menjadi orangtua baru atau kembali merawat bayi yang baru lahir, memang bukanlah sebuah tugas mudah. Tapi bukan berarti juga, bunda tak bisa melakoninya. Beruntungnya, kini kita ada pada masa yang bisa dengan mudah mempelajari banyak hal hanya dengan telepon genggam saja. Termasuk tata cara perawatan si kecil yang baru saja lahir.

Menariknya, untuk urusan hal terbaik dan perawatan bayi baru lahir, bunda bisa menengok beberapa video yang disajikan oleh JOHNSON’S® . Menjadi, standar dunia dalam perawatan kulit bayi selama lebih dari 125 tahun ini, kali ini JOHNSON’S® menghadirkan 125 video edukasi yang mencakup hal-hal yang “Terbaik Untuk Bayi”, dan salah satunya bagiannya adalah “Perawatan Bayi Baru Lahir” yang bisa bunda lihat disini.

Informasi yang disajikan tersebut bekerja sama dengan beberapa tenaga ahli kesehatan yang ahli di bidangnya masing-masing. Video-video ini ditujukan oleh JOHNSON’S® sebagai bentuk apresiasi kepada para ibu di seluruh Indonesia.

Bagaimana bunda? Yuk, belajar bersama-sama agar lebih paham tata cara perawatan bayi baru lahir yang benar.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Ada Kalanya Anak Susah Tidur Akibat Bunda Tak Mengajarinya Tidur Teratur

pexels-photo-1172937

Memiliki buah hati yang aktif dan selalu riang tentu jadi kebanggaan tersendiri untuk orangtua. Energi positif yang dipancarkan si kecil turut membuat orangtuanya pun senang. Hanya saja, segala aktivitas yang dilakoni buah hati seringkali juga membuat tenaganya terkuras.

Untuk itu alangkah bijaknya sebagai orangtua, Bunda pun perlu memperhatikan lagi kegiatan si kecil. Sekalipun di siang hari ia memiliki serangkaian kegiatan positif, jangan sampai malamnya justru ia didera masalah sulit tidur.

Mengutip dari Baby Center, orangtua biasanya melakukan beberapa kesalahan umum orangtua saat menyuruh anaknya pergi tidur. Hati-hati Bun, dengan begini dia akan sulit tidur malam dan malah kekurangan waktu istirahatnya. Padahal, istirahat cukup adalah kebutuhan yang diperlukan si kecil agar kesehatannya tak terganggu. Supaya lebih jelas, berikut lima kesalahan orangtua beserta solusinya.

Anak Perlu Jadwal Tidur yang Teratur, Sudahkah Bunda Melakukan Hal Tersebut?

Bun, umumnya waktu tidur anak yang sudah sekolah akan berkurang 60 menit dibanding mereka yang belum masuk sekolah. Untuk itu, diperlukan jadwal tidur yang teratur supaya tidurnya tetap cukup dan berkualitas. Marc Weissbluth, seorang dokter anak dan penulis dari Healthy Sleep Habits, Happy Child mengatakan,

“Membiarkan anak tidur terlambat akan membuat anak menjadi orang yang lemah atau selalu terlihat kelelahan,” ujar Jill Spivack, co-creator dari The Sleepeasy Solution: The Exhausted Parent’s Guide to Getting Your Child to Sleep from Birth to Age 5.

Solusi untuk masalah ini: cukup buat jadwal tidur malam untuk anak yang teratur. Bahkan, jika bisa ditambah tidur siang. Jangan menunggu anak menguap, mengusap mata, hingga merengek, baru Bunda mengajaknya pergi tidur. Lantaran setiap anak berbeda-beda, National Sleep Foundation mengatakan bahwa balita biasanya membutuhkan 12 jam waktu tidur pada malam hari.

Sedangkan anak-anak pra-sekolah butuh sampai 13 jam istirahat pada malam ditambah siang hari. Anak-anak yang sudah beranjak remaja wajib mengistirahatkan tubuh 10 sampai 11 jam per hari. Cari informasi supaya anak selalu konsekuen dengan aturan yang telah dibuat ya Bun.

Orangtua Gemar Menaruh Banyak Mainan di Tempat Tidur Anak

Masih banyak orangtua yang suka menaruh banyak mainan di tempat tidur buah hatinya. Cara ini dilakukan supaya si kecil tidak mudah rewel atau manja pada ibunya jelang tidur. Padahal, kebiasaan ini pun bisa membuat anak jadi kurang tidur karena fokus dengan mainan-mainannya sehingga membuatnya terjaga sepanjang malam.

Solusinya, demi memaksimalkan tidur si kecil, lebih baik Bunda menyetel cahaya kamar buah hati jadi lebih redup supaya otaknya pun beristirahat. Kamar yang redup akan membuat tidur lebih nyenyak daripada kamar yang penuh cahaya.

Jika si kecil takut menghadapi kamar gelap, ajari berhitung 1 sampai 10, lalu matikan lampu pada hitungan ke-10. Hindari juga barang-barang elektronik, seperti televisi, DVD, atau komputer yang bisa mengurangi jam tidur si balita. Biarkan anak terlelap dalam keadaan yang sunyi dan tambahkan pendingin ruangan agar dia semakin pulas ya Bun.

Bunda Terbiasa Melewati Rutinitasnya Jelang Tidur

Melewatkan rutinitas yang seharusnya dilakukan sebelum tidur sejatinya merugikan buah hati Bunda lho. Justru dengan membimbingnya melakukan rutinitas sebelum tidur, hal itu akan membuatnya belajar disiplin dengan waktu tidurnya. Bunda mungkin berpikir belum saatnya balita menggosok gigi atau membaca buku. Namun, jangan sepelkan hal tersebut.

“Sangat penting memiliki berbagai cara untuk membuat anak tahu kapan dia harus pergi tidur,” ujar Judith Owens, seorang direktur klinik gangguan tidur anak di Hasbro Children’s Hospital di Providence, Rhode Island.

Solusinya, mulailah rutin membuat panggilan isyarat supaya si kecil mengerti bahwa dia harus tidur. Misalnya, Bunda menyetel alarm pada jam weker dengan suara yang khas di dalam kamar. Dengan begitu, anak akan merasa terpanggil dan segera meninggalkan aktivitasnya. Bunda juga bisa menceritakan beberapa dongeng dari buku anak pada waktu yang sama setiap harinya sehingga anak terbiasa tidur tepat waktu.

Kebanyakan Orangtua Masih Tak Konsisten dengan Aturan yang Mereka Buat

Kebanyakan orangtua tidak konsisten dengan aturan yang mereka buat. Biasanya dipicu karena Bunda dan si kecil terlalu banyak kegiatan sehingga berimbas pada jadwal tidur anak yang berantakan. Orangtua juga membiarkan anak selalu tidur bukan di tempat tidur mereka. Padahal anak bisa menjadi manja karena kebiasaan ini.

Solusi satu-satunya tentu sebagai orangtua pun harus belajar menaati peraturan dan membimbing si kecil untuk melakukan hal serupa ya Bun. Latih si kecil untuk menaati jadwal tidur yang sudah dibuat orangtuanya. Bahkan ketika anak sedang ngambek dan meminta tidur dengan Anda, berikan persyaratan. Jangan uruti permintaan si kecil terlalu sering. Sedikit memberikan ketegasan bagus buat anak disiplin mematuhi aturan Bunda.

Orangtua Biasanya Terlalu Cepat Memutuskan Membuatkan Kamar untuk Buah Hati 

Ada beberapa orangtua yang sudah menyiapkan kamar sendiri bahkan saat buah hatinya masih dalam kandungan. Padahal, ada lho tipikal anak yang suka sulit tidur kalau tidak ada orangtua di dalam kamarnya.

Terutama yang usianya masih dibawah satu tahun. Namun, orangtua lebih mendahulukan keinginan mereka agar anak tidur di kamar sendiri. Kendati Bunda memang mendambakan si kecil bisa tidur mandiri, ada pertimbangan tersendiri lho urusan kamar.

Nah, solusinya, tunggu hingga anak siap tidur di dalam ruangan yang berbeda kamar dengan orangtuanya. Pelan-pelan atau saat usianya tiga tahun, kenalkan si kecil pada kamar baru mereka. Akan tetapi, jangan langsung memaksanya supaya tidur terpisah dari Bunda. Ada saatnya anak Bunda meminta tidur sendiri yaitu ketika memasuki lingkungan sekolah.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Penyebab Anak Susah Tidur Bisa Dipicu Dari Hal Sederhana yang Ternyata Tak Bunda Sadari

pexels-photo-1296145

Anak susah tidur sering jadi beban tersendiri untuk orangtuanya. Bunda pernah berada di situasi semacam ini? Entah mengapa rasanya sukar sekali membuat buah hati tertidur di jam yang telah ditentukan. Kendati sudah membujuk atau mencoba menidurkannya, tetap saja si kecil tetap segar sepanjang malam.

Sejatinya, saat anak menginjak usia empat tahun, mereka mulai memiliki jam tidur yang normal lho Bun. Karenanya, kalau si kecil mulai kesulitan tidur, berarti ada hal yang mungkin membuatnya merasa tak nyaman untuk memejamkan mata. Apa saja ya kira-kira? Ini dia beberapa diantaranya.

Si Kecil Mengalami Masalah Kesehatan

Bunda berasumsi si kecil sehat-sehat saja, padahal di malam hari, ia justru sukar sekali terlelap. Atau, kondisinya mungkin ia sudah tertidur, namun tiba-tiba bangun di tengah malam. Jika Bunda menemukan kondisi semacam ini, sebaiknya Bunda perlu curiga ya.

Terlebih jika anak mengorok atau mengeluarkan bunyi saat berbaring, keesokan paginya lebih baik Bunda bawa si kecil ke dokter anak. Dari sekian banyak persoalan, masalah kesehatan yang seringkali memicu buah hati jadi sulit tidur adalah sleep apnea. Sleep apnea adalah gangguan pernapasan yang disebabkan oleh sesuatu yang mengganjal atau menghambat saluran pernapasan.

Si Kecil Mungkin Saja Mengalami Sleep Walking

Bunda wajib berhati-hati dengan masalah yang satu ini. Bayangkan saja, si kecil yang mengalami sleepwalking umumnya melakukan sesuatu secara tak sadar. Kejadian ini pun memiliki presentase yanng cukup tinggi di kalangan anak usia sekolah, sekitar 20 hingga 40 persen. Menurut dr Karen Ballaban-Gill, seorang dokter spesalis anak dan neurologist dari Children’s Hospital di Montefiore, penyebab sleepwalking adalah tahapan transisi tidur yang tak komplet.

Akibatnya otak merasa badan sudah tidur namun badan belum merasa istirahat. Karenanya, apabila si kecil mengalami sleepwalking, pastikan lantai aman dan tak ada barang berbahaya yang membuat si kecil rentan terpeleset. Di lain sisi, ada baiknya juga Bunda dan Ayah mengajak si kecil berkonsultasi ke dokter demi meredakan masalah sleepwalking-nya ini Bun.

Sering Gelisah pun Bisa Jadi Pemicunya

Bun, kondisi gelisah tak hanya dialami oleh orang-orang dewasa. Tapi juga anak-anak, kendati penyebab gelisahnya pun berbeda-beda. Kegelisahan anak-anak biasanya berasal dari ketakutan seperti tak mau tidur sendiri. Yang terpenting, yang perlu diingat adalah jangan sampai orangtua marah saat mengatasi anak yang susah tidur dan gelisah.

Bunda sebaiknya menenangkan dan bertanya tentang apa yang dikhawatirkan oleh buah hati. Kita bisa meminta anak mengatakan ketakutannya lewat tulisan atau gambar. Jika memang butuh ke dokter atau terapis, jangan sungkan untuk berkonsultasi ya, Bun.

Sudahkah Si Kecil Sering Diajak Berolahraga?

Mager alias malas gerak sejatinya bisa memicu anak jadi kian susah tidur. Coba perhatikan lagi keseharian si kecil, apakah dia tipikal yang aktif, atau justru lebih banyak waktu untuk menghabiskan waktu dengan duduk berjam-jam di depan gawai? Hati-hati Bun, hal itu bisa membuat mereka susah tidur.

Menurut dr Shariar Shahzeidi dari University of Miami, olahraga bisa memproduksi zat kimia pada otak yang bisa membuat anak lebih mudah tidur dan rileks ketika jam tidur tiba. Karenanya, pastikan anak kita berolahraga atau beraktivitas fisik setiap hari. Jika memang anak tak olahraga di sekolah, ajak mereka keluar rumah dan bermain. Yoga juga bisa menjadi pilihan untuk membuat anak tetap aktif lho. Apalagi yoga juga bisa membuat mereka tenang.

Mulailah Kurangi Waktu Bermain Gawai Pada Si Kecil

Bun, screen time yang terlalu sering dan relatif lama bisa membuat anak susah tidur. Apalagi kalau main gadget-nya menjelang waktu tidur. Untuk itu, yuk Bun atur jadwal anak main gadget sebijak mungkin supaya anak tak kecanduan.

Susah tidur juga bisa membuat anak berisiko mengalami obesitas lho. Dibanding membiarkan buah hati terlalu lama menatap gawai, lebih baik ajak anak melakukan hal yang bisa membuatnya tidur seperti baca buku dongeng atau saling bertukar cerita ya Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Kenapa Buah Hati Wajib Tidur Tepat Waktu? Ini Dia Jawabannya Bun!

pexels-photo-1789388

Para peneliti mengungkapkan, pentingnya orangtua mengajarkan buah hati agar tidur tepat waktu akan berdampak baik pada kualitas tidurnya lho Bun. Sementara anak yang cenderung tak terbiasa tidur tepat waktu akan membawa dampak pada konsentrasinya di keesokan harinya. Lama kelamaan, hal ini pun juga membawa pengaruh terhadap kecerdasan si kecil.

Membiasakan si Kecil Tidur Lebih Awal Pertanda Bunda Bersikap Bijaksana

Bunda tentu tahu bahwa anak-anak yang masih berusia balita membutuhkan waktu tidur paling tidak selama 12 jam perhari demi perkembangan tubuh dan otak yang lebih baik. Hanya saja, masih banyak orangtua yang lalai dan tak membiasakan anak-anak tidur pada jam yang sama setiap malam.

Padahal ini perlu diterapkan agar anak-anak juga dapat terbangun pada jam yang sama keesokan harinya. Sementara untuk Bunda yang sudah terbiasa melakukan hal ini, berarti Bunda sudah melakukan hal bijak terhadap kesehatan dan pertumbuhan buah hati Bunda.

Ajarkan Si Kecil Untuk Tidur Tepat Waktu demi Peningkatan Kemampuan Kognitifnya

Para peneliti di Inggris menemukan bahwa anak-anak yang memiliki jam tidur terjadwal dan tepat waktu menunjukkan kecenderungan memiliki kemampuan kognitif yang lebih baik Melansir dari Hufftington Post, lebih dari 11 ribu anak di Inggris dari berbagai usia, yaitu 3,5 dan 7 tahun dianalisa dan diuji dalam hal kemampuan membaca, matematika dan ketrampilan spasial.

Dalam penelitian tersebut, menunjukkan jika anak-anak yang tidur di jam yang berbeda-beda setiap harinya mendapatkan nilai yang lebih rendah dalam tes membaca dan matematika. Sedangkan anak-anak yang sering tidur larut menunjukkan adanya kekurangan dalam hal kemampuan kognitif. Karenanya, supaya perkembangan otaknya tetap berjalan dengan baik, pastikan si kecil tidur cukup dan waktunya pun sama setiap harinya ya Bun.

Jangan Biarkan si Kecil Terbiasa Begadang ya

Bun, kenapa si kecil perlu diajarkan untuk tidur teratur? Ini karena menerapkan jam istirahat yang sama setiap malam penting untuk menjaga ritme sirkadian untuk berfungsi dengan baik sehingga tubuh dan otak akan menjadi lebih sehat. Jam internal ini dijalankan oleh jadwal kita, cahaya serta pelepasan melatonin.

Bunda perlu tahu, penerapan jam istirahat bisa dilakukan dengan pergi tidur pada jam yang sama selama tujuh hari dalam satu minggu, hal ini agar jam internal dapat diatur secara otomatis dan tingkat melatonin meningkat pada jam yang sama setiap hari.

Dan Ini yang Perlu Bunda Lakukan Saat Jam Tidur Si Kecil Bermasalah

Menurut hasil survey, seorang anak berumur 4 tahun yang tidur kurang dari 9 jam 45 menit di malam hari ternyata memiliki bermasalah dalam hal mengontrol emosi, rasa marah, dan cenderung agresif. Sementara seorang anak dengan jam istirahat yang konsisten tidak hanya mengalami perkembangan kognitif yang lebih baik, namun juga kebiasaan dan sikap yang lebih baik.

Demi memenuhi kebutuhan tidur buah hati, Bunda perlu mengikuti anjuran National Sleep Foundation yang merekomendasikan agar anak-anak usia 1 sampai 3 tahun tidur selama 12-24 jam per hari. Anak-anak usia 3 sampai 5 tahun memerlukan tidur selama 11 hingga 12 jam per hari, sementara anak-anak usia 5 hingga 12 tahun memerlukan waktu tidur selama 10-11 jam per hari.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top