Parenting

Anak Sering Tidak Mendengarkan Perintah? Bunda Tidak Sendiri! Ini 20 Cara Mendidik Anak Supaya Mendengar Perintah

alvaro-reyes-492359

Berbagai macam teori cara mendidik anak sudah Bunda terapkan, anehnya tak satupun dari perintah Bunda yang didengar. Jangan merasa patah arang bun, sebab faktanya bunda tak sendirian.

Yaap, perkaran ini sepertinya menjadi masalah utama orang tua jaman sekarang. Tapi sebagai orangtua kita juga tak boleh terlalu lembek dalam hal mengajar si kecil. Sebab biar bagaimanapun, terus menerus mengikuti keinginan mereka itu akan membuatnya manja.

Lalu, harus bagaimana cara mendidik anak agar mereka mau mendengar perintah Bunda?

edward-cisneros-415590

 

Demi Meyakinkan Jika Bunda Maksud Adalah Dirinya, Cobalah Bunda Panggil Namanya

Tak perlu dijelaskan lagi, bunda tentu paham jika berteriak bukanlah sikap yang baik dalam hal mendidik anak. Tak hanya kesan kasar yang akan terdengar, suara yang terlalu kantang hanya akan meningkatkan emosi. Sebab meski mereka masih kecil, untuk urusan diperlakukan mereka memiliki rasa yang sama. Bunda juga tentu tak mau kan, jika tiba-tiba atasan di kantor berteriak hanya karena masalah sepele? nah anak pun demikian.

Trik sederhananya, pastikan bunda memanggil nama mereka, baik disaat mereka sedang bermain atau kegiatan lain. Dan ketika ia yang dipanggil menoleh dan memerhatikan bunda, katakan apa yang unda mau dari mereka. Ini jauh lebih baik daripada harus berteriak dan memanggil namanya.

Sama Halnya dengan Orangtua, Ada Kalanya Mereka Juga Ingin Didengarkan Oleh Kita

Bunda perlu ingat, jika kita adalah orangtua dari mereka jangan bertindak seperti atasan kepadda bawahan yang sering sekali tak mau mendengar keluhan. Ketika bunda memintanya untuk melakukan sesuatu, namun sepertinya ia mengalami kesulitan atau kendala, cobalah siapkan sedikit waktu untuk mendengar keluhan yang ingin ia sampaikan.

Cobalah untuk lebih peka, barangkali mereka memang sedang capek belajar, sedang tidak enak hati dengan suasana sekolah, misalnya, atau masalah apa saja yang mereka alami.

Sebab mau mendengarkan, adalah kunci dari cara mendidik anak yang baik. Jika bunda menunjukkan sikap mau mendengar keluhan mereka, atau menangkap kesan bahwa mereka sedang kesal dengan masalah mereka, maka mereka pun akan melakukan hal yang sama, yakni mendengar perintah bunda.

Isyaratkan Kesungguhan Bunda dengan Kontak Mata yang Baik Kepadanya

Mungkin bunda pernah lihat, ada satu anak yang akan langsung mengerti ketika orangtuanya memberi perintah hanya dengan memandangnya saja. Nah, ini jadi salah satu alternatif lain yang bisa kita lakukan juga loh bun.

Karena adanya kontak mata juga menandakan, jika kita bersungguh-sungguh terhadap apa yang diucapkan. Hanya cukup dengan menatap matanya, anak pun merasa mendapat perhatian dan keberadaannya begitu penting.

Akan tetapi bunda juga perlu jika, teguran dan perintah yang dimaksud sebaiknya disampaikan dengan kalimat-kalimat positif. Dengan demikian anak akan menganggap apa yang baru saja kita sampaikan memang benar-benar penting.  Misalnya, dalam rangka menegur perbuatan salahnya, kontak mata pun tetap diperlukan manakala orangtua dan anak berdialog biasa.

Dan hal ini juga bisa bunda pakai saat sedang ingin memberi perintah, atau menanyakan sesuatu kepada dirinya.

Usianya yang Masih Belia, Tak Memungkinkan Untuk Memahami Kalimat-kalimat yang Sukar, Usahakan Untuk Memakai Kalimat yang Pendek ya Bun!

Bunda tak perlu memakai bahasa atau kalimat-kalimat perumpamaan, pakailah kalimat atau kata yang tidak terlalu panjang dan sederhana namun bermakna.

Dan demi mencapai titik penyampaian yang baik, sesekali perhatikan bagaimana ia berkomunikasi dengan teman sebayanya. Cermatilah caranya, bila anak memperlihatkan gejala bahwa dirinya tak berminat diajak ngobrol, boleh jadi itu karena ucapan kita tak dipahaminya entah karena bertele-tele, atau karena berupa kalimat-kalimat perintah dan melarang.

Karena semakin kita bertele-tele, maka anak akan semakin menutup telinganya dan tak mau mendengar apa yang ingin kita sampaikan kepadanya.

Teknik Lain yang Perlu Bunda Perhatikan Adalah Posisi Badan yang Memang Harus Sejajar dengan Dirinya 

Misalnya bunda sedang berada di kursi ruang makan, sedang ia sedang asyik menonton di depan televisi. Dengan alasan kepentingan sesuatu bunda berteriak dari belakang dan memintanya melakukan sesuatu. Hal-hal seperti ini kadang jadi penghalang komunikasi, sebab ia tak bisa melihat ekspresi bunda ketika menyampikan itu kepadanya.

Posisikan badan kita sejajar dengan tinggi badannya,  dan jangan terlalu jauh darinya. Dengan begitu, perhatian anak bisa lebih mudah terfokus dan menangkap pesan atau dialog yang dilontarkan orangtua. Jika anak terlihat tidak memerhatikan, sentuhlah dia untuk menarik perhatiannya. Sikap itu menunjukkan keseriusan kita dalam berkomunikasi. Kalau perlu, bunda boleh mendekap anak saat kita mengajaknya berbicara.

Teknik Lain Untuk Mengajarinya Memahami Sesuatu Adalah dengan Menyampaikan Peraturan dalam Bentuk Ajakan Bukan Perintah yang Terkesan Paksaan

Ini jadi sesuatu yang terbilang cukup mudah, dan tentu akan lebih bisa diterima oleh dirinya. Bunda boleh berkreasi dengan kata dan kalimat apa saja. Selama tak terdengar sebagai paksaan, dengan senang hati ia akan melakukan.

Misalnya sebagai ganti dari ucapanmu ”Setelah bermain bereskan kembali mainanmu ” bisa diganti dengan  ”Kakak, mau bantu bunda tidak? kalau mau yuk simpan lagi mainannya”. Dengan perkataan semacam ini, anak tidak akan merasa sebagai objek perintah tetapi dia merasa diperhatikan dan menjadi subjek. Dirinya merasa bahwa ada upaya yang ternyaata melibatkan perannya, sehingga ia akan mempunyai rasa tanggung jawab terhadap barang-barangnya.

Jelaskan Aturan-aturan Tersebut Kepadanya dengan Cara yang Baik, Sembari Membimbingnya Agar Lebih Memahami Dia

Pemahaman ini memang membutuhkan kemampuan bunda untuk mengeksplorasi hal-hal dan kalimat baru yang enak didengar. Darinya kita mungkin akan lebih belajar bagaimana memahami dirinya yang benar, jika sudah merasa menemukan caranya mungkin bunda akn lebih mudah untuk menyampaikan komunikasi kepada dirinya.

Misalnya nih, setelah sibuk bermain dan mengacaukan rumah, sebagai ganti dari kalimat “Semuanya jadi berantakankan, udah simpan mainannya” dengan “Kakak suka nggak kalau mainannya rapih? kalau suka diberesin lagi ya” nah jika ternyata ia masih menolak bunda boleh menawarkan bantuan kepadanya “Yaudah, bunda bantuin ya”. Hal-hal sederhana seperti ini akan memicunya mengikuti apa yang kita telah tunjukkan.

Jika Ia Berbuat Salah, Bunda Jangan Pernah Menyalahkan Pribadinya, Tapi Jelaskan Bahwa Sikap Seperti Itu Tak Boleh Diulangi Lagi Oleh Dirinya  

Ini memang jelas jadi sesuatu yang tidak bisa disama ratakan, karena biar bagaimanapun perbuatan yang salah tak melulu berarti ia juga harus disalahkan.

Misalnya ketika ia menjatuhkan sesuatu barang dari atas rak meja, kalimat “Tuh kan gara-gara kamu jatuh jatuh dan pecah” bisa bunda gantikan dengan kalimat “Yah, padahal kalau adek lebih hati-hati pasti nggak jatuh. Lain kali lihat-lihat dulu ya” 

Hal lain yang perlu bunda juga hindari adalah,  berujar dengan kalimat yang bernama memojokkan dirinya. Menyebutnya Bodoh, malas, atau tak bisa apa-apa. Kalimat-kalimat seperti ini hanya akan membuatnya rendah diri, dan berpikir bahwa ia tak dihargai.

Mereka Memang Masih Kecil, Tapi Bunda Perlu Juga Untuk Menggargai Setiap Keinginan-keinginan yang Mereka Inginkan

Suatu waktu, si kecil juga mungkin akan memiliki keinginan yang mungkin akan disampaikan kepada kita. Meminta mainan baru, ingin bermain dengan suasana yang berbeda, hingga hal lain yang jadi keinginnya.

Dan untuk mengganti kalimat larangan yang sebenarnya tak boleh, alangkah lebih baik jika bunda akan berujar “Kakak boleh pilih mainan yang mana saja, tapi untuk kali ini satu dulu ya. nanti lain kali kita ke sini lagi” sebab ini akan terdengar jauh lebih baik daripada “Pilih satu saja, jangan banyak-banyak”, atau bunda juga boleh membuat sebuah kesepakatan dengannya, sesaat sebelum akan pergi, beritahu ia jika apapun yang akan diingininya nanti, ia hanya boleh meminta satu saja, tak boleh lebih.

Tak hanya membuatnya belajar berjanji, ini juga akan memberinya pengertian bahwa biar bagaimanapun sebagai orangtua kita akan selalu mengerti keinginan hatinya.

Dan dari Sikap Tidak Taatnya, Boleh Jadi Ada Sesuatu yang Sedang Ia Alami

Sama halnya seperti kita sedang tak enak hati, meski apapun kata orang kadang kita lebih memilih diam. Bukan karena tak suka namun sesuatu yang mengganjal dihati lebih berat. Nah, hal yang sama mungkin juga sedang ia rasakan.

Cobalah sediakan waktu sebentar untuk lebih mengerti ia, tanyakan apa yang sedang terjadi dan mengapa ia tak mau mendengar bunda berbicara. Sikap dan kalimat yang baik akan membuatnya berbicara dan menyampaikan semua keluh kesah. Dengan begitu bunda bisa membaca jika ternyata ada sesuatu yang sedang ia rasakan.

Selanjutnya Hal yang Bunda Perlu Hindari Adalah, Mengajarnya dengan Cara Mengancam atau Menyuap dengan Imbalan

Satu kali si kecil mungkin akan takut, karena merasa akan menerima hukuman jika tidak melakukan apa yang bunda perintahkan. Namun jika terus meneru dilakukan tentu tak akan merubahnya jadi lebih baik juga. Dan begitu pula dengan imbalan atau suap berupa hal-hal yang mereka inginkan. Misalnya, “Kalau kamu beresin mainan bunda kasih uang”, dengan begitu apa yang dilakukan bisa jadi semata-mata demi uang. Bukan karena merasa bertanggung jawab atas mainan yang berantakan.

Demi Rasa Dihargai, Sesekali Pujilah Ia  Atas Segala yang Telah Dilakukannya

Semua orang tentu akan senang sekali jika, apa kerja keras atau upaya yang ia lakukan mendapat pujian atau apresiasi dari orang lain. Maka untuk itu, setelah berhasil melakukan apa  yang bunda minta berilah sepatah-dua patah kata yang berisi pujian atas apa yang ia telah kerjakan.

Misalnya “Anak yang rajin, bunda bangga deh sama kakak” Isyarat rasa bangga yang bunda sampaikan akan jadi sesuatu yang ia ingat selalu. Dengan begitu suatu waktu ia akan jauh lebih termotivasi lagi utnuk melakukan hal-hal yang sedang bunda ingin perintahkan.

Dan Bunda Juga Perlu Untuk Memahami dan Mengetahu Sejauh Mana Ia Mampu Memahami Sesuatu yang Kita Sampaikan

Hal ini jelas tak bisa bunda samakan, sebab setiap anak memiliki kemampuan memahami yang berbeda-beda. Bunda mungkin berpikir jika anak si anu mengerti dengan cukup begini, lalu mengapa anakku tidak ya? Ini adalah salah satu pemikiran yang keliru bun.

Setiap anak datang dan lahir dengan cerita yang berbeda.Untuk itu bunda perlu menakar sejauh mana ia memahami apa yang akan bunda sampaikan. Misalnya, bunda akan bertanya “Kenapa kakak berantakan semua mainannya?” barangkali akan, lebih baik jika diganti dengan pertanyaan “Bunda, mau tahu dong tadi kakak ngapain aja sampai mainannya dikeluarin semua?” 

Sebab kalimat-kalimat menghakimi, dan mengancam atau menuduh, hanya akan membuat anak merasa terpojok. Dan memang ini tak hanya memahami ia saja, kita juga perlu belajar untuk mengekplorasi kemampuan berbahasa.

Hindari Juga Untuk Memberinya Pertanyaan yang Akan Memicunya Menjawab dengan Kalimat “Tidak”

Misalnya bunda akan bilang, “Mau nggak beresin mainannya?” mulai sekarang mungkin bisa digantikan dengan , “Sayang deh kalau mainannya berantakan di mana-mana. Kita bereskan yuk kak!” Ingat bun, anak tak mau diperintah. Jadi daripada mengatakan, “Awas, makan jangan sampai berantakan, ya. Habis makan, taruh piring di tempat cucian,” lebih baik ucapkan, “Kak, ayo tebak dimana coba kamu harusnya menyimpan piring ini?” Terdengar menjadi sebuah pertanyaan, tak hanya berasa sedang ebrmain ia juga belajar untuk berpikir mencari solusi.

Berbicaralah dengan kalimat-kalimat yang tak sekadar menjurus pada jawaban ya atau tidak bun. Misalnya contoh lain itu dengan, “Senang di sekolah tadi?” menjadi kalimat yang lebih bijak seperti, “Tadi mainan apa yang seru di sekolah?” Setelah itu, bicarakan topik-topik yang menarik bagi dirinya.

Untuk Meminta dan Menyampaikan Sesuatu Bunda Juga Perlu Tahu Kapan Momen yang Tepat Untuk Itu

Jangan main asal perintah ya bun, bunda perlu menunggu momen yang tepat. Perhatikan, apakah anak sedang asyik dengan kegiatannya? Kalau memang iya, mungkin percuma saja mengajaknya bicara. Lebih bijak kalau kita tunggu dulu sejenak, sampai setidaknya ia tak sibuk-sibuk amat atau sudah menyelesaikan aktivitasnya.

Kadang, sulit mengalihkan perhatian anak dari hal yang sedang ditekuninya. Kalau dia sedang asyik main mobil-mobilan, jangan langsung diinterupsi. Mulailah dengan pendekatan dulu agar anak tak merasa kegiatannya diganggu atau tak dipaksa menimpali omongan kita. Apalagi kalau yang dikatakan orangtua berupa perintah atau larangan.

Beri waktu beberapa menit sebelum meminta anak melakukan sesuatu. Contoh, “kak, kalau jarum jam yang pendek menunjuk angka 12, kamu makan ya. Setelah makan, kamu boleh main lagi.” Dengan begitu ia tak merasa aktivitasnya terganggu. Lagi pula, dengan cara itu anak memiliki persiapan ketika harus menghentikan kegiatannya loh bun.

Jangan Pelit Untuk Berkata “Tolong” dan “Terimakasih”

Faktanya, ini tak hanya untuk mereka yang dewasa saja, ajarlah anak sedari kecil untuk tak enggan berucap “Tolong” dan “Terimakasih”.

Berbicaralah kepada anak dengan cara seperti yang kita harapkan jika orang lain berbicara kepada kita. Jika hendak minta bantuan, yang pertama kali harus diucapkan adalah “tolong”, bukan? Niscaya anak tak merasa dipaksa saat diperintah. Ini jadi ajang lain untuk menunjukkan sikap bahwa meski sebagai orang tua, kita juga menunjukkan sikap yang sama dengan berkata “Tolong” dan “Terimakasih”. 

Demi Pemahaman yang Lebih Mudah Disampaikan, Bunda Juga Harus Memberinya Contoh Nyata yang Bisa Ditiru Olehnya

Dan memang benar, sebaik-baiknya contoh yang akan memudahkan dirinya untuk belajar adalah kita sebagai orang tua.

Bunda harus ajarkan bagaimana pentingnya mendengarkan, jika anak merasa dirinya didengar, maka ia pun akan belajar mendengarkan kita sebagai orang tua yang memberi perintah kepadanya. Berilah contoh atau teladan yang baik dengan memberi perhatian yang tulus saat si kecil berbicara.

Dengan contoh yang konkrit anak akan menyerap dan meniru bagaimana menjadi pendengar yang baik untuk orang lain.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Mom Life

Bunda Termasuk Tipe Ibu yang Mana? Apa Termasuk Ibu Tradisional?

home

Jadi orangtua bukanlah pekerjaan mudah Tak ada buku, seminar, atau sekolah yang secara pasti ada demi memberikan informasi detail mengenai bagaimana caranya jadi orangtua. Baik jadi ayah maupun jadi ibu.

Kalau bicara soal ibu, kita masing-masing punya cerita dan pengalaman pribadinya mengenai sosok ibu di dalam benaknya. Bunda sendiri, akankah Bunda tipe ibu yang akan meneruskan pola asuh yang sama dari orangtua Bunda untuk diturunkan ke anak-anak? Sebab ternyata tak semua ibu berlaku demikian. Ini dia tipe-tipenya, Bun.

  1. Ibu Tradisional

Kenapa dikatakan ibu tradisional? Karena ibu yang satu ini selalu mengutamakan nilai-nilai yang sudah mengakar dalam hidupnya dan mengusungnya sebagai pedoman saat dirinya jadi ibu. Ibu tradisional punya jiwa yang hangat dan jadi pengasuh yang baik. Tak lupa, mereka adalah tipe-tipe ibu yang suka bekerja keras dan perfeksionis.

Mereka selalu mengutamakan kepentingan anak. Tipe ibu semacam ini ditandai dengan hobinya yang suka membuatkan makanan kesukaan anak-anaknya. Yup! Ibu tipe tradisional adalah mereka yang mampu membuat anak merasa menjadi pusat perhatian, serta merasa dicintai dan dipuja tanpa pamrih.

  1. Ibu sekaligus Teman bagi Buah Hati

Ibu yang satu ini adalah tipe perempuan yang sejatinya tak ingin membuat jarak dengan si kecil. Bunda dengan tipikal ini berusaha rileks dan mengikuti apa yang sedang disenangi buah hatinya sehingga seringkali si kecil lebih sering menganggap ibunya sebagai kakak daripada ibu yang konvensional.

Menariknya, ibu semacam ini sanggup menerima anak dengan segala kelebihan dan kekurangannya sehingga buah hatinya merasa dimengerti dan tak harus berpura-pura hanya demi mendapatkan perhatian ibunya. Tapi Bunda harus hati-hati, sebab ada risiko anak jadi rentan membantah karena menganggap ibunya sebagai teman.

  1. Ibu yang Bebas

Bunda yang satu ini selalu luwes dan mendambakan buah hatinya bisa mandiri. Bunda selalu punya prinsip kalau setiap orang berhak mendapatkan me time, termasuk dirinya maupun buah hatinya. Di lain sisi, Bunda dengan tipe ini selalu mendorong anaknya untuk berani berpendapat dan membuat keputusan.

Mereka adalah tipikal Bunda yang yakin bahwa seorang ibu yang baik seharusnya membiarkan kebebasan dan kemandirian anaknya. Dengan prinsip yang sudah dibangun, akhirnya Bunda pun bisa memberikan ruang bagi anak untuk mengembangkan kepribadiannya, dan menciptakan kehidupannya sendiri. Bunda pun bisa mendorong mereka untuk belajar dari kesalahan dan mengakui pencapaian yang dilakukannya. Di lain pihak, Bunda pun juga masih bisa menikmati kegiatan Bunda.

  1. Ibu Mata-mata

Sampai anak dewasa, ada lho tipikal ibu yang selalu tak bisa memberikan hukuman atau time out pada buah hatinya. Satu-satunya cara yang baik adalah berusaha untuk mempengaruhi anaknya. Kadang, atau bahkan sering, tipikal ibu semacam ini tak secara langsung memberikan nasihat atau berkomunikasi dengan anak, namun selalu menyimpan apa keinginan anak dalam hati.

Bun, mungkin kelak Bunda bisa selalu terlibat dalam kehidupan buah hati bahkan bisa dengan jeli memperhatikan perkembangan dan kesehatan jiwa raganya. Tapi yang harus diperhatikan, Bunda jangan sampai terbentur dengan kondisi dimana Bunda berusaha menyeimbangkan antara selalu ada di sisinya dan membiarkannya membuat keputusan sendiri.

  1. Ibu yang Komplet

Mungkin ibu dengan karakter yang satu ini yang paling sering muncul sebagai karakter di film-film keluarga. Mereka muncul sebagai karakter yang kuat yang membuat keluarga jadi harmonis. Bun, jadi ibu yang komplet sejatinya bisa lho dilakukan oleh ibu manapun. Kuncinya yaitu belajar dari kesalahan dan tak ragu untuk memperbaiki.

Sewaktu-waktu, Bunda bisa bersikap sebagai teman, tetapi juga tetap dihormati dan ditaati oleh anak. Dengan begini, Bunda pun akhirnya bisa membuat si kecil merasa bangga dengan kehadiran ibunya.. .

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Anak Takut Ketika Bertemu dengan Orang Baru? Ini 10 Cara Supaya Si Kecil Tak Takut pada Orang Baru

anak takut

Bun, rasa takut anak pada orang asing memang biasanya akan hilang saat usianya memasuk 18 bulan. Tapi kadang ada juga tipikal balita yang sampai usianya melewati 2 tahun, ia belum bisa terlepas dari fase takut ke pada orang asing. Begini, pada dasarnya anak takut pada orang asing adalah hal normal. Hal ini pun terjadi karena anak-anak hanya tahu orang terdekatnya adalah keluarga.

Karenanya, bila mungkin Bunda pernah mengajak si kecil bertemu dengan teman atau kerabat yang belum pernah ditemuinya, ia akan bereaksi dengan menangis, rewel, atau bahkan jadi sangat pendiam, takut, dan bersembunyi. Nah Bun, demi mengatasi si kecil agar tak jadi anak yang selalu takut pada orang asing, mungkin Bunda perlu melakukan sepuluh hal sederhana ini.

Bantulah Si Kecil agar Merasa Nyaman

Berikan kesempatan padanya untuk bertemu orang baru ya Bun. Bunda bisa menggendong dan memperkenalkannya ke teman Bunda yang mungkin belum pernah ditemuinya. Kalau suasananya nyaman, si kecil pun akan merasa nyaman dengan kehadiran orang yang baru ditemuinya itu.

Berikan Benda Kesayangannya

Seandainya yang harus ditemuinya kali ini adalah saudara jauh dan kebetulan belum pernah bertemu dengan si kecil, cobalah Bunda pakai trik membawa benda atau mainan kesayangan si kecil. Mintalah pada kerabat Bunda tersebut untuk berkenalan dan menghabiskan waktu dengan si kecil dengan melibatkan mainannya itu.

Bila Bunda Harus Meninggalkan Si Kecil di Daycare, Beritahukan apa yang terjadi

Kalau Bunda terpaksa harus meninggalkannya bersama orang yang belum dikenalnya sebagai pengasuh di daycare, maka beritahukan hal tersebut pada si kecil. Jelaskan baik-baik padanya siapa orang yang baru dilihatnya dan apa yang terjadi. Misalnya, jelaskan kalau orang itu adalah pengasuh yang Bunda percaya. Terpenting, beritahukan juga kapan Bunda akan kembali.

Cobalah Bagikan Situasi Ini Kepada Orang yang Akan Bunda Temui 

Sebelum mengajak si kecil bertemu dengan kerabat atau teman Bunda, lebih baik ungkapkanlah padanya kalau sii kecil butuh waktu untuk menyesuaikan diri bila bertemu orang baru. Mintalah pada mereka untuk tak terlalul agresif dan menghormati ruang pribadi si kecil yaitu dengan tidak terburu-buru mengajaknya berkenalan.

Kalaupun Sang Kerabat Hendak Menggendong si Kecil, Mintalah untuk Menunggunya

Demi kenyamanan si kecil, mintalah teman atau kerabat Bunda yang tak dikenal bayi untuk sedikit menunggu sebelum menggendongnya.  Bayi biasanya lebih rileks ketika orang mendekat perlahan dan tenang serta tidak terburu-buru menggendongnya.  Biarkan bayi merasa nyaman sebelum kontak dengan orang lain ya Bun.

Perkenalan bertahap

Kalau bayi memang kesulitan menyesuaikan diri dengan orang baru, bunda bisa mencari alternatif dengan melakukan perkenalan bertahap. Misalnya, perkenalkan satu orang di hari ini. Di hari berikutnya, ajak bayi berinteraksi dengan orang itu selama beberapa menit. Tingkatkan durasi si kecil bersama orang tersebut agar mereka perlahan bisa menjadi akrab.

Bersikaplah Hangat Kepada Orang Tersebut di Depan Si Kecil

Bayi atau balita biasanya menerima petunjuk dari Bunda dan perilaku orangtuanya. Karenanya, perlakukan orang yang familiar dengan Anda tapi tidak familiar bagi bayi dengan hangat. Setidaknya tunjukkanlah kalau Bunda merasa nyaman dengan orang tersebut sehingga si kecil pun ikut merasa nyaman.

Luangkan Waktu Bunda dengan Si Kecil dan Orang yang Ingin Bunda Kenalkan

Demi penyesuaian, yuk Bun luangkan waktu bersama si kecil dan orang yang ingin Bunda kenalkan. Cobalah dengan mulai mendudukan anak di dekatnya. Bila anak merasa tidak nyaman, pindahkan anak ke dekat Bunda. Ciptakan lingkungan yang aman dan nyaman untuk anak.

Siapkan Momen Perkenalan Sebaik Mungkin, Bukan Saat si Kecil Lapar ya Bun

Siapkan semua kebutuhan bayi sebelum ia bertemu orang baru. Biasanya bayi rentan cemas kalau merasa lelah atau lapar. Karenanya, sebelum Bunda hendak mengenalkannya pada orang baru, sebaiknya gantikan dulu popok dan berikan susu padanya. Bahkan biarkan ia tidur siang sebelumnya. Bayi harus merasa bahagia dan di mood yang baik untuk menjalani transisi dengan baik.

Bawa anak ke tempat umum

Satu cara untuk membuat anak terbiasa melihat wajah baru adalah dengan mengajaknya sering keluar, Bun. Coba yuk cari waktu paling tidak sehari saja dalam seminggu dan ajak ke taman terdekat atau area bermain.

Setelah membuat anak familiar dengan tempat-tempat ini, mulai perkenalkan anak pada teman atau kerabat Bunda. Semakin banyak orang baru yang anak temui di jarak yang aman, semakin baik ia akan mengatasi rasa takutnya.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Buzz

Eksis di Instagram Tak Membuat Jennifer Bachdim Lupa Akan Bondingnya Pada Keluarga

jennifer

Seorang ibu dituntut harus pintar membagi waktu. Terlebih bagi mereka yang masih harus bekerja. Selain membagi waktu untuk keluarga, urusan pekerjaan pun tak boleh diabaikan. Hal semacam ini yang dialami Jennifer Bachdim. Istri pesepakbola Irfan Bachdim ini sekarang dikenal sebagai influencer di Instagram sekaligus ibu bagi dua orang anaknya, Kiyomi Sue Bachdim dan Kenji Zizou Bachdim. Menariknya, Jennifer selalu punya cara yang efektif dalam membagi waktu.

“Untuk membagi waktu antara pekerjaan dan waktu keluarga, saya berpatok dengan prioritas. Jelas, prioritas pertama saya adalah keluarga terutama anak-anak. Jujur sebenarnya agak sulit ketika ada pekerjaan yang mengharuskan saya pergi ke Jakarta,” ujar Jennifer seperti dikutip dari haibunda.com, Senin (17/9).

Bila ada kondisi tertentu dimana ada pekerjaan yang mengharuskannya keluar kota, ia pun menitipkan anak-anaknya pada suami atau pengasuh. Namun jika anak-anaknya sakit, Jennifer tak ragu untuk memilih menunda dulu pekerjaannya.

“Jika anak-anak sakit, saya akan menunda dulu beberapa pekerjaan yang mengharuskan saya pergi ke Jakarta. Kalau memang mendesak, saya akan meminta untuk melakukannya di Bali. Jadi saya bisa memantau kondisi anak-anak,” katanya.

Dalam urusan rumah tangga, Jennifer dan Irfan selalu bekerjasama dengan baik. Di waktu senggang, ia dan suami pun melakukan sederet pekerjaan rumah tangga. Ia pun selalu berupaya agar bisa mengantar dan menjemput anaknya ke sekolah tiap hari. Hal ini dilakukannya karena memang keluarga dan anak-anak sudah jadi prioritas Jennifer.

Menjadi ibu, terutama dibarengi mengurus pekerjaan rasanya kurang dengan waktu 24 jam yang dimiliki setiap harinya. Namun ini bukan alasan Bunda jadi melupakan bonding dengan si kecil. Sebab peran Bunda bukan hanya merawat dan melindungi, melainkan juga memberikan kasih sayang dan nilai moral.

Dan demi meningkatkan atau memperbaiki bonding moment tersebut, memang sebagai ibu harus memiliki frekuensi yang sama dengan anak. Menurut psikolog Vera Itabiliana, sebagai Bunda pun perlu tahu apa yang sedang tren di dunia anak.

“Dengan ibu tahu, maka anak akan lebih merasa ibunya mengerti si anak, merasa diperhatikan. Hal itu bisa membuat anak merasa nyaman, sehingga nantinya akan gampang terbuka dan jadi yang pertama tahu saat anak punya masalah,” kata Vera.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top