Parenting

Anak Bunda termasuk Orang Yang Keras Kepala? Atasi Dengan 5 Tips Jitu Ini

anakkeraskepala

Banyak tingkah dan tidak mau dihalang-halangi keinginannya merupakan salah satu sifat yang dimiliki oleh anak-anak. mereka seringkali melakukan sesuatu yang tidak kita sukai, bahkan beberapa diantaranya perbuatannya itu justru membahayakan, baik untuk dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Tentu hal ini membuat kita sebagai orang tua kesal dibuatnya. Dan biasanya yang dilakukan oleh orang tua adalah dengan memberikan nasehat-nasehat kepadanya. Namun bagaimana jika nasehat-nasehat itu seolah tidak didengar oleh anak? rasa marah dan jengkel tentu kita rasakan. Bagaimana tidak. nasehat-nasehat yang menurut kita diberikan untuk kebaikan dirinya namun ternyata tidak didengarkannya.

Tips mengatasi anak yang keras kepala

Bagi Bunda yang sedang marah karena si kecil dianggap keras kepala dan tidak mau mendengarkan nasehat-nasehat, Bunda tidak perlu hawatir. di bawah ini ada tips yang bisa Bunda lakukan untuk mengatasinya, yaitu:

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Ketika Membuat Jadwal untuk Anak, Jangan Pisahkan Waktu Bermain dan Belajar Ya Bunda

4-Ketika-Waktu-Bermain_-Ayah-dan-Bunda

Bunda pasti ingin si buah hati tumbuh jadi anak yang disiplin. Wajar jika kemudian berusaha menanamkan sikap disiplin tersebut sedari dini. Salah satu cara yang biasa ditempuh adalah dengan membuatkan jadwal untuknya. Kapan waktunya makan, kapan waktunya tidur, kapan bermain, kapan waktunya belajar dan sejumlah jadwal lainnya.

Tentunya membuat jadwal semacam ini tak salah. Tapi tahukah Bunda, khusus untuk si buah hati yang masih usia dini seharusnya jadwal bermain dan belajarnya tidak dipisah.

Meski Belajar itu Penting, Rasa Bahagia Anak Jauh Lebih Penting

1-Meski-Belajar-Itu-Penting-namun-Rasa-Bahagia

Kenapa demikian? Menurut Dr. Sofia Hartati., M.Si Ketua Asosiasi Pendidikan Guru PAUD, sangatlah penting untuk menstimulasi rasa ingin tahu anak, memperkenalkan anak pada banyak hal, dan juga memberikan asupan nutrisi yang baik dan lengkap.

Namun, Dr. Sofia Hartati menambahkan, perlu diingat walaupun belajar itu penting, tapi pengalaman yang menyenangkan menjadi prioritas terpenting bagi anak di usia dini. Untuk itu, sebisa mungkin belajar anak dilakukan sambil bermain.

Salah satu cerita menarik tentang belajar sambil bermain ini dialami sendiri oleh Albert Einstein. Salah satu peristiwa yang menginspirasinya terjadi ketika dia berusia 4 tahun dan ayahnya memberinya alat kompas untuk dimainkan. Einstein selama berjam-jam bermain dengan memutar-mutar kompas tersebut sambil penasaran kenapa jarumnya selalu menunjuk ke arah utara. Rasa penasaran dan kagumnya inilah yang dibawa Einstein hingga dewasa dan membuatnya menjadi tertarik pada ilmu pengetahuan.

Jika Bunda Menjadikan Satu Waktu Bermain dan Belajar, Minat Belajar Anak Bisa Meningkat

3-Jika-Bunda-Memisahkan-Waktu-Bermain-dan-Belajar

Berbeda dengan kita yang dewasa, si kecil justru akan lebih bisa konsentrasi jika waktu belajar dan bermainnya dijadikan satu. Beberapa penelitian menyebutkan soal ini. Salah satu yang sering menyuarakannya adalah Nancy Carlsson Paige, profesor bidang pendidikan dari Lesley University di Cambridge.

Menurutnya emosi anak akan lebih cepat berkembang jika ia tidak dikhususkan waktunya untuk belajar dan dibiarkan lebih banyak bermain. Dengan menjadikan satu waktu belajar dan bermain anak tidak akan mudah stres dan minat belajar dan konsentrasinya akan terus meningkat ketika ia dewasa kelak.

Pilih Permainan yang Mendukung Metode Belajar Sambil Bermain ini ya Bunda

5-Pilih-Permainan-yang-Mendukung-Metode-Belajar-

Nah, untuk mewujudkan pola bermain sambil belajar tentunya dibutuhkan perangkat dan mainan yang bisa mendukung hal tersebut. Permainan itu harus memberikan pengalaman yang menyenangkan sambil membantu si kecil belajar.

Contohnya Bunda bisa mencoba program edukasi Kodomo Challenge dari Benesse. Kodomo Challenge ini dilengkapi dengan kurikulum dan materi ajar berdasarkan penelitian dan diawasi para ahli yang telah disesuaikan dengan usia dan perkembangan anak, baik fisik maupun pikirannya. Sehingga anak bisa menikmati dan mengerti lebih baik permainan dan materi ajar yang dimainkannya.

Apalagi Kodomo Challenge Indonesia ini menggunakan metode pendekatan “multi-platform”. Hal ini membuat pemahaman anak lebih mendalam dimulai dari media favoritnya, baik itu DVD, buku, maupun mainan. Serunya lagi, permainan yang ada pada Kodomo Challenge akan melibatkan peran Bunda sebagai teman bermain bersama si kecil.

Keterlibatan Bunda dalam permainan si kecil ini penting. Menurut hasil penelitian Kathy Hirsh-Pasek and Roberta Michnick Golinkoff, peneliti pendidikan anak usia dini sekaligus pengarang buku best seller Becoming Brilliant: What Science Tells us About Raising Successful Children, keinginan anak untuk bermain meningkat jika ada orang dewasa yang ikut bermain bersamanya. Nah, sejalan dengan hal tersebut permainan yang ada di Program Edukasi Kodomo Challenge ini akan secara aktif melibatkan Ayah atau Bunda untuk ikut bermain bersama buah hati

Penasaran? Sebagai langkah awal, Bunda cukup mendaftar di sini, untuk mendapatkan Free Trial Kit Kodomo Challenge untuk dikirimkan ke rumah.

Dikirim ke rumah? Iya Bunda, inilah bagian paling menyenangkan dari Kodomo Challenge. Setelah mendaftar Free Trial Kit, nantinya kita akan dikirimkan ke rumah buku bergambar, DVD serta buku panduan orang tua.

Bunda akan mendapatkan Free Trial Kit Kodomo Challenge sesuai dengan usia si kecil. Ada Kodomo Challenge Toddler yang diperuntukan bagi anak usia 1-2 tahun dan ada Kodomo Challenge Playgroup untuk anak usia 2-3 tahun. Jadi bisa dipastikan si kecil akan nyaman bermain dan belajar dari Free Trial Kit Kodomo Challenge tersebut karena sesuai dengan perkembangan usianya.

Caranya? Cukup lengkapi form yang ada di sini maka paket Free Trial Kit akan segera dikirim ke alamat rumah Bunda. Kalau Bunda memutuskan mendaftar sekarang, selain mendapatkan Free Trial Kit, Bunda juga bisa mendapatkan konten parenting dan edukasi untuk anak di shimajiro.id sekaligus berkesempatan memenangkan hadiah kejutan berupa bantal, baby bib atau trolley Shimajiro untuk Bunda yang beruntung.

Yuk, Bunda daftar sekarang, jadi Bunda bisa menikmati quality time, bermain sambil belajar bersama si kecil dengan program edukasi Kodomo Challenge!

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Anak Usia 2-5 tahun Cenderung Keras Kepala, Kenali Kelebihan dan Tips Menghadapi si Kecil yang Keras Kepala

anakkeraskepala

Si kecil suka memaksakan keinginannya padahal sebagai orangtua Anda sudah memberikan alternatif pilihan yang paling tepat?  Mungkin Anda menilai buah hati Anda seorang yang keras kepala, bahkan selalu ngotot dengan pilihannya.

Namun demikian jangan buru-buru melabeli si kecil dengan anak yang nakal atau suka melawan.  Karena pada dasarnya, anak dengan rentang usia 2-5 tahun memiliki sifat yang cenderung keras kepala sebagai bagian dari fase perkembangan dan pertumbuhan kejiwaan si anak.

Pada fase ini, anak sudah mulai memiliki kesadaran bahwa dia adalah pribadi yang independen terhadap orang lain terutama orangtuanya.  Dalam bahasa ilmiah, si kecil yang keras kepala sering dikenal dengan istilah strongwilled child.  Lalu bagaimana seharusnya Anda harus menyikapi si kecil yang demikian?  Berikut ini adalah beberapa hal terkait anak keras kepala dan bagaimana tips menghadapinya.

Kenali faktor kemungkinan yang bisa memicu anak bersikap keras kepala

Beberapa hal bisa menjadi pemicu si kecil bersikap keras kepala, diantaranya adalah sebagai berikut:

Kemungkinan anak meniru reaksi orangtua ketika menunjukkan sikap keras kepala atau bahkan bertengkar di depan mereka.  Terkait dengan kemungkinan ini maka penting bagi Anda untuk selalu menjaga sikap di depan si kecil agar mereka tidak menunjukkan reaksi yang sama, yaitu keras kepala.

  • Kemungkinan lainnya adalah orangtua yang terlalu memanjakan anaknya.  Dimana ketika semua keinginan anak dipenuhi tanpa syarat, kemungkinan mereka akan menunjukkan sikap melawan ketika suatu saat Anda tidak menuruti keinginannya.
  • Kurangnya kasih sayang dan perhatian kepada anak juga bisa menjadi faktor kemungkinan yang akan menyababkan anak bersikap keras kepala.
  • Membiasakan anak untuk selalau patuh secara berlebihan dan meminta mereka untuk selalu mengalah tanpa alasan yang jelas juga bisa memicu sikap keras kepala pada anak-anak.

Bagaimana mengenali anak yang keras kepala?

Ada beberapa karakteristik anak yang bisa menunjukkan sikap keras kepala, yaitu:

  • Cenderung lebih aktif dan kurang sabaran
  • Cenderung lebih impulsif dan kurang mampu mengontrol keinginannya, sehingga sering bertindak tanpa pikir panjang.
  • Tidak mau menurut, misalnya ketika anak dilarang melakukan sesuatu oleh orangtuanya, dia hanya akan melihat sekilas kepada orangtuanya untuk kemudian melakukan hal yang telah dilarang tersebut.
  • Cenderung lebih mudah marah dan bersikap keras.
  • Cenderung menunjukkan ekspresi yang berlebihan baik ketika gembira maupun sedih.
  • Cenderung lebih sensitif dan mudah tersinggung.

Kelebihan dan kekurangan anak keras kepala

Namun demikian di balik sikap keras kepala yang melekat pada diri anak-anak, sebenarnya ada beberapa hal positif yang sebenarnya menunjukkan bahwa anak tersebut adalah pribadi yang berani dan bersemangat.

Anak keras kepala cenderung memiliki semangat yang tinggi, sehingga ketika dia menginginkan sesuatu maka akan ada usaha keras untuk mencapainya dan memiliki keyakinan bahwa dia mampu mencapainya.
Anak keras kepala cenderung tidak suka diatur, sehingga dia akan memilih sesuai keinginannya dan merasa bertanggungjawab dengan apa yang sudah menjadi pilihannya tersebut.

Dengan pola asuh yang terarah dan tepat, anak keras kapala bisa berkembang sebagai pribadi yang mampu memotivasi diri sendiri, lebih tahan banting terhadap tekanan, dan berusaha untuk meraih impiannya dengan usaha keras.

Anak keras kepala cenderung suka belajar sendiri dan kurang menyukai pendapat orang lain sehingga sering merasa paling benar sendiri dalam banyak hal.

Anak yang keras kepala cenderung memiliki integritas sehingga lebih kuat dalam mempertahankan pendiriannya dan tidak mudah terpengaruh atau goyah.

Tips menghadapi anak yang keras kepala

  • Biasanya anak yang keras kepala belajar dari pengalaman, sehingga ketika hanya diberi penjelasan dengan kata-kata mereka cenderung tidak begitu saja mau menerimanya.  Sebagai contoh ketika Anda mengatakan bahwa jangan bermain di dekat kompor karena panas dan berbahaya, maka dia perlu membuktikannya dengan merasakan sensasi panas di dekat kompor.
  • Anak yang keras kepala akan lebih menyukai penguasaan yang lebih, sehingga Anda tidak perlu terlalu banyak menyuruhnya namun cukup dengan mengingatkannya.
  • Anda bisa memberikan pilihan kepada anak daripada memerintahkannya, karena kemungkinan besar perintah Anda akan ditolak.  Dengan memberikan pilihan kepada anak, mereka akan merasa diajak mengambil keputusan sehingga merasa lebih bertanggungjawab atas apa yang sudah dipilihnya tersebut.
  • Hindari untuk memaksakan keinginan kita kepada mereka karena hal itu justru akan membuat mereka semakin menentang.  Jalin komunikasi yang baik, walaupun tentu butuh kesabaran besar untuk menghadapinya, apalagi jika mereka mengajak berdebat.
  • Cobalah untuk memberikan kebebasan akan dirinya sendiri namun tetap berada dalam batas kewajaran, selama hal itu tidak membahayakan mereka.

Memiliki anak yang keras kepala tentu membutuhkan kesabaran ekstra, namun sebagai orangtua Anda memiliki peran besar dalam mengarahkannya kepada hal-hal yang positif.  Selain tips di atas, Anda juga bisa meluangkan waktu untuk mendengarkan keinginan mereka dan cobalah mencari waktu yang paling tepat ketika ingin menasihatinya.

Anda juga bisa memfasilitasi hobi mereka sebagai media untuk menyalurkan bakat dan potensi yang mereka miliki.  Sangat penting bagi Anda untuk menerapkan pola asuh yang terbaik, sehingga mereka bisa berkembang menjadi pribadi yang sehat.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top