Mom Life

Anak Akan Sukses Bila Orangtua Ajarkan Lima Nilai Ini Sejak Dini

barefoot-beach-cheerful-1574653

Sebagai orangtua, tentu kesuksesan dan kebahagiaan anak-anak adalah tujuan besar yang ingin dicapai ya Bun. Bahkan sejak menjadi orangtua muda, banyak dari kita yang mencari tahu atau meminta saran dalam membesarkan anak. Menariknya, berdasarkan kata ahli parenting, kesuksesan anak itu dipengaruhi cara orang tuanya, Bun. Orang tua yang mampu mendidik anak-anaknya dengan baik, akan menghasilkan individu yang baik ketika dewasa.

Tina B. Tessina, Ph.D., seorang psikoterapis dan penulis ‘How to Be a Couple and Still Be Free’ memiliki beberapa ide. Ia sadar, memang tak ada satu ukuran yang cocok untuk semua pertanyaan. Tapi, pasti ada ciri-ciri yang dimiliki orang tua agar anak-anak sukses. Nah, berikut ini adalah ciri orangtua yang mampu membesarkan dan menghasilkan anak-anak yang sukses, Bun.

Serius Dalam Membesarkan Anak

Bun, membesarkan anak tak bisa dilakukan sambil main-main. Sebagai orangtua, kita dituntut serius dan harus memahami si kecil. “Pekerjaan orang tua adalah membesarkan orang dewasa yang sukses,” kata Tina. Ia mengatakan, di setiap tahap terutama nanti di tahun-tahun sekolah menengah, orang tua perlu mengingat anak-anak mereka perlu belajar mandiri, bertanggung jawab, memotivasi diri, dan pandai dalam berhubungan dengan orang lain.

Memberikan Contoh yang Baik pada Anaknya

Contoh baik yang diberikan orangtua bukanlah dengan mengatakan ia harus makan sayur atau buah saja. Atau meminta si anak untuk tak lama-lama berkutat dengan gawai. Bila orangtua enggan memberi contoh, lantas apakah yang menjamin si kecil akan mau menuruti perintah orangtuanya. Bak kata pepatah, anak-anak melakukan apa yang ia lihat.

Karena itu kita sebagai orang tua harus memberi contoh yang baik pada anak-anak. Kalau kita ingin anak tumbuh jadi orang baik dan sukses, maka kita juga harus memberikan contohnya. Yang lebih penting lagi adalah memberi contoh dan pemahaman bahwa hasil akhir bukan yang utama, tapi prosesnya.

Jangan Takut Membuat Kesalahan

Bun, manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Dalam hal ini juga sebagai orangtua yang mengasuh anak-anaknya. Namun tahukah Bunda, salah satu ciri orang tua yang kelak anaknya sukses adalah tidak takut membuat kesalahan. Ketika kita melakukan kesalahan dan anak melihatnya, lalu kemudian memperbaikinya bisa menjadi pelajaran hidup yang baik untuk anak-anak. Untuk itu, saat Bunda merasa melakukan kesalahan, maka langkah selanjutnya adalah perbaiki kesalahan tersebut dan komunikasikan pada ayah.

Mengajarkan Si Kecil Pada Komitmen

Sekalipun ia masih kecil, namun mengajarkan komitmen ke anak-anak itu penting, Bun. Dr Fran Walfish, seorang psikoterapis keluarga dan relasi serta penulis ‘The Self-Aware Parent,’ mengatakan mengajar anak-anak tentang sesuatu berkelanjutan itu sangat-sangat penting. Nah, dalam hal ini komitmen merupakan salah satu prinsip hidup yang perlu dimiliki si kecil agar ia kelak dapat menghargai setiap komitmen yang sudah dibuatnya.

Mengajari Si Kecil tentang Cara Menghargai Uang

Bun, memberi reward pada anak-anak tak melulu dengan memberikan hadiah secara langsung. Ada kalanya kita pun perlu menahan diri untuk tidak mudah memberikan hadiah pada anak. Yuk, ajarkan pada anak untuk bekerja dan menabung lebih dulu sebelum mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Fran menuturkan mendidik anak-anak tentang uang juga sangat penting.

“Beberapa orang tua dari anak-anak yang sukses berasal dari keluarga yang sederhana sampai yang miskin. Mereka tahu bagaimana rasanya tidak bisa melakukannya atau menginginkan sesuatu yang tidak dapat dibeli,” paparnya. Hal-hal yang seperti ini membuat anak-anak jadi belajar untuk bekerja dan menghargai uang lho Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Hiburan Anak

Mana yang Lebih Baik, Membeli Banyak Mainan atau Berikan Sedikit Mainan Saja?

boy-child-cute-1598122

Bermain dan menyediakan mainan memang penting guna menstimulasi si kecil. Bahkan selain membelikan pakaian, orangtua pun cenderung gemar belanja mainan untuk anaknya. Apalagi ketika ada diskon mainan. Bahkan sebuah survei menunjukkan jika anak-anak Amerika memiliki lebih dari 100 mainan di rumah mereka. Padahal Bun, kualitas mainan juga perlu dipertimbangkan lho dibanding hanya kuantitas mainan itu sendiri.

Ilmuwan sosial di University of Toledo mempelajari kelompok balita selama sesi permainan bebas. Dalam beberapa sesi, sebagian anak memiliki empat mainan untuk dimainkan. Sedangkan, anak lain mempunyai 16 mainan.

“Ketika ada 16 mainan di ruangan itu, anak cenderung hanya melihat sebentar tiap item maksimal satu menit dan mereka mengambil mainan lain,” kata Alexia Metz, PhD, seorang terapis okupasi di University of Toledo.

Sementara anak-anak yang hanya memiliki empat mainan, justru interaksi mereka lebih terbangun dan berkomunikasi lebih lama. Metz mengatakan, hal ini menunjukkan anak-anak pun memiliki waktu bermain yang berkualitas sekalipun mainan mereka jumlahnya lebih sedikit. Justru dengan kuantitas mainan yang lebih sedikit, mereka menggunakan mainan dengan cara berbeda yang bermanfaat untuk perkembangannya.

“Seiring bertambahnya usia, rentang perhatian mereka menjadi lebih panjang, kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik kemudian mereka enggak gampang menyerah,” kata Metz mengutip WFMZ.

Bahkan dengan jumlah mainan yang lebih sedikit, hal ini justru mengurangi distraksi pada anak. Hal senada disampaikan Jennifer Cervantes, pekerja sosial di Texas Children’s Developmental Pediatric. Ia menjelaskan memiliki terlalu banyak mainan ternyata bisa membebani anak karena konsentrasi mereka akan terbagi dan menyebabkan anak-anak mudah pindah dari satu mainan ke mainan berikutnya, tanpa sepenuhnya terlibat dengan mainan atau menggunakan imajinasi mereka.

“Kadang-kadang ketika anak-anak memiliki terlalu banyak mainan, mereka dapat dengan mudah berpindah dari satu mainan ke mainan lainnya. Alhasil mereka punya sedikit kualitas interaksi dengan setiap mainan,” kata Cervantes.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Bun, Sudah Tahu Berapa Besaran Biaya Sekolah Internasional untuk Si Kecil? Pastikan Dulu Ya

children-class-classroom-1720186

Setiap orangtua mendambakan anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang terbaik. Untuk itu tak jarang orangtua yang akhirnya memasukkan anaknya ke sekolah berkelas internasional, tentu dengan biaya selangit. Apalagi pendidikan anak juga termasuk investasi terbaik bagi orangtua.

Bunda yang sudah bertekad bulat menyekolahkan anak di sekolah internasional, sudah tahukah berapa besaran biaya yang harus di keluarkan?

Misalnya saja untuk Sekolah Pelita Harapan. Sekolah bertaraf Internasional ini menggunakan sebuah kurikulum bernama Baccalaureate. Sekolah yang merupakan cabang dari sekolah Internasional di Swiss. Sistemnya juga menggunakan kredit sama seperti anak kuliah.

Jika ingin mendaftar di sekolah ini maka harus menyediakan kurang lebih $ 9.000 atau setara Rp 80 juta hanya untuk membayar SPP tahunan dari sekolah. Biaya itu belum termasuk dalam beban tambahan seperti membeli buku dan lain sebagainya. Uniknya Lebih dari 30% anak yang sekolah di sini didominasi oleh warga Korea Selatan.

Selain kurikulum Baccalaureate, ada juga kurikulum yang sering dipakai di sekolah internasional yakni kurikulum Cambridge. Salah satunya diterapkan oleh sekolah Dwiwarna. Biaya sekolah ini dalam satu tahunnya berkisar Rp 60 juta, sementara biaya SPP sebesar Rp 6,5 Juta yang harus dibayar tiap bulan.
Di sekolah ini juga telah disediakan asrama sendiri bagai para murid, kolam renang serta berbagai macam sarana lainnya. Anak juga bisa mengembangkan bakat dengan mengikuti banyak ekstrakulikuler yang disediakan.

Untuk sekolah internasional yang berada di bilangan Jakarta, ada sekolah Highscope Indonesia. Mengutip dari detikFinance, sekolah tersebut mematok biaya uang pangkal masuk Sekolah Dasar hingga Rp 70 juta. Sementara biaya bulanannya sebesar Rp 6,6 juta.

“Enrollment fee-nya itu Rp 70 juta, untuk paket langsung di grade 1 sampai grade 6, itu sudah paket. Kemudian untuk school fee nya, per bulan kita kena di Rp 6,6 juta,” kata salah seorang staff.

Biaya tersebut juga mencakup berbagai kegiatan sekolah anak lainnya semacam study tour atau agenda lainnya. Tapi belum termasuk program pendidikan seperti ekstrakurikuler yang nantinya bisa diikuti si murid. Namun, kegiatan tersebut bukan merupakan kurikulum wajib yang harus diikuti oleh para murid, melainkan hanya pilihan sehingga dinamai program enrichment.

“Kita ada program enrichment, kalau misalkan anak tertarik dengan program enrichment kami, nanti itu ada pembayaran kembali di luar biaya yang tadi saya sebutkan. Itu kurang lebih di Rp 2 juta,” katanya.

Nah, dengan biaya yang relatif besar, orangtua pun perlu bijak dalam mengatur keuangan. Pastikan kalau besaran SPP di sekolah yang sudah dipilih tak memberatkan keuangan keluarga di kemudian hari. Perbanyak komunikasi dan diskusi dengan ayah juga ya Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Mom Life

Tabungan Habis untuk Lebaran, Haruskah Berhutang untuk Biaya Sekolah Buah Hati?

cash-cent-child-1246954

Tahun ajaran baru tiba, hal ini tentu disambut penuh semangat oleh anak-anak. Tapi belum tentu semangat yang sama menghampiri para orangtua. Bayangkan, tahun ini orangtua harus dihadapkan pada agenda kalau tahun ajaran baru dimulai tak lama setelah libur lebaran.

Tak sedikit dari para orangtua yang tabungannya sudah menipis karena sudah dipakai untuk keperluan lebaran. Lantas andaikata tabungan habis sebelum waktunya, bolehkah orangtua berhutang demi membiayai sekolah anak-anaknya.

Mengutip detikFinance, Perencana Keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andy Nugroho mengatakan sejatinya tak masalah orang tua mengambil utang untuk biaya sekolah anak. Asalkan, kata Andy, orang tua mampu membayar biaya bulanan sekolah si anak.

“Sepanjang memang mereka mampu untuk bayar SPP-nya, karena kan yang lebih penting itu adalah SPP-nya. SPP itu kan nggak cuma di awal doang, sepanjang mereka paham penghasilannya mampu untuk bayar SPP tiap bulan, itu oke-oke saja,” kata Andy.

Biaya bulanan harus menjadi prioritas orangtua mengingat biaya ini harus dikeluarkan untuk jangka waktu panjang. Untuk biaya yang kelihatan berat namun hanya sekali dibayarkan seperti uang pangkal mungkin masih dapat diatasi dengan mengajukan pinjaman, namun untuk SPP tentu ada pertimbangan lain.

Jangan sampai, kata Andy, orang tua mampu membayar biaya masuk sekolah anak dengan harga tinggi, namun tak sanggup untuk membayar biaya bulanan ke depan.

“Jadi itu yang sebenarnpya menurut saya harus lebih diperhatikan oleh para orang tua. Jadi jangan bisa bayar uang pangkalnya doang, tapi ternyata untuk bayar SPP-nya megap-megap, itu kan kasihan anaknya juga kalau nanti di tengah jalan orang tuanya nyerah untuk pindah sekolah,” tuturnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top