Parenting

Ajarkan Hal Ini Pada Anak Usia 10 Tahun, Agar Mental Baiknya Mulai Terbentuk

pexels-photo-1720186

Memiliki anak yang berusia 10 tahun banyak tantangannya. Di usianya itu, tanggung jawab Bunda dan Ayah sebagai orangtua semakin lebih besar. Bukan lagi mengenalkan tentang apa yang ada di sekitarnya, melainkan juga mengenalkan nilai-nilai moral yang ia perlu tahu.

Anak usia 10 tahun biasanya dijejali pertanyaan kritis di benaknya. Menariknya, jika Bunda dan Ayah bisa menemukan cara yang tepat untuk memberitahukan sebuah hal baru, maka momen itu akan terekam jelas di benaknya. Ia pun bisa mengingatnya sampai ia dewasa kelak. Beberapa hal ini yang mungkin bisa Bunda ajarkan pada si kecil yang berusia 10 tahun.

Kepada Anak Laki-laki, Ajarkan Padanya untuk Tak Bersikap Menyebalkan pada Perempuan Saja, Melainkan Juga Pada Setiap Orang yang Ada di Sekitarnya

Orangtua yang memiliki anak lelaki pasti ingin anaknya tak menyakiti teman sebayanya yang perempuan. Sejatinya nasihat tersebut baik adanya, hanya saja Bun, akan lebih baik jika Bunda pun turut mengarahkan agar si kecil bisa selalu memunculkan sikap yang tak membuat orang lain jengah padanya.

Bukan hanya saat ia berada di lingkaran teman sebaya yang perempuan, tapi juga saat ia sedang bermain dengan teman-temannya yang laki-laki. Tak sedikit anak lelaki yang memang bisa mengerti untuk tak menjahili anak perempuan, hanya saja, mereka jadi kurang bisa membawa diri saat bergaul dengan anak laki-laki lainnya. Sikap nakalnya justru muncul di momen tersebut. Untuk itu, lakukan tindakan preventif dengan rutin menasehatinya ya Bun.

Jangan Mengintervensi Saat Si Kecil Sibuk Membuat Karya atau Menggambar ya Bun

Alih-alih menyemangati dan memberikan pujian, ada lho orangtua yang justru mengintervensi karya yang dibuat buah hatinya. Sekalipun si kecil memang sudah berusia 10 tahun, bukan berarti ia langsung bisa menggambar sesuai yang Bunda harapkan, bukan?

Karenanya, biarkan ia tengelam dulu di dunianya saat proses menggambar atau membuat karya. Bunda hanya perlu mendampingi dan tak usah mengintervensi. Kalau memang menurut Bunda, secara warna atau bentuknya ada yang kurang, maka tuntunlah buah hati dibanding mengintervensinya.

Saat Hasil Ujiannya Tak Sesuai Ekspektasi, Tetap Ucapkan Kalimat yang Positif untuknya

Jangan biarkan si kecil melewatkan hari yang berat sendirian. Ia bisa saja kepikiran sepanjang hari setelah mendapati kalau hasil ujiannya tak sesuai ekspektasi. Padahal ia sudah belajar sebaik mungkin. Nah, sebagai orangtua, apakah Bunda tetap akan memberikan tekanan saat si kecil berlaku demikian?

Untuk itu, dibanding terus mendorongnya agar ia lebih giat belajar lagi, jadikan momen saat ia bersedih jadi quality time terbaik Bunda dan buah hati. Ada berbagai kalimat positif yang bisa Bunda ucapkan padanya, semisal: “Kamu sudah melakukan yang terbaik dari yang bisa kamu lakukan. Ibu bangga. Sudah ya, tak usah bersedih lagi.”

Jadilah Orangtua yang Juga Bisa Mendengar Ia Bercerita

Si kecil butuh teman cerita untuk segala aktivitasnya. Termasuk saat ia sedang merasakan banyak hal dan ketakutannya. Misalnya, ia tak sengaja memecahkan gelas, atau mungkin merusak kotak bedak Bunda, pasti ada ketakutan yang dirasakannya.

Anak seusianya sedang belajar bertanggung jawab atas segala tindakannya. Untuk itu, Bunda cukup jadi penolong untuknya. Pastikan dalam perasaan kalut pun, ia tak ragu bercerita pada Bunda. Bukan justru takut dan menghindari Bundanya sendiri.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Kesalahan yang Umum Dilakukan Orangtua Saat Menyuapi Anak

baby-baby-eating-chair-973970 (4)

Proses memberikan makan pada si kecil seharusnya menjadi momen yang menyenangkan sekaligus menyehatkan. Hanya saja, sebagai orangtua, ada kalanya Bunda mengabaikan beberapa hal yang akhirnya justru merugikan si kecil. Baik kebiasaan maupun asupan makanan yang diberikan, bisa jadi pemicu si kecil jadi bermasalah dengan kebiasaan makannya kelak. Untuk itu, perhatikan lagi ya Bun apa-apa saja yang sebaiknya tak dilakukan saat menyuapi si kecil.

Anti Makan Berantakan

Saat menyuapi si kecil dan suapan tersebut luber kemana-mana, pasti Bunda segera mencari lap basah dan membersihkannya sesegera mungkin. Rasanya jangan sampai si kecil terlihat kotor karena sisa makanan yang berantakan ke sisi-sisi wajah atau bahkan bajunya. Padahal, kebiasaan ini justru sebaiknya dikurangi. Biarkan si kecil bereksplorasi dengan kondisi ‘kotor’ yang muncul saat ia makan. Ia akan belajar tentang apa yang dikonsumsinya dari situ.

Untuk itu, tak usah khawatir atau takut kotor, justru biarkan si kecil makan sendiri saat usianya sudah cukup mampu untuk memegang sendok sendiri. Di masa-masa eksplorasi, berikan varian menu yang semakin beragam. Sembari mengajarinya tentang makanan, Bunda juga bisa mengajarinya untuk belajar bersih-bersih sendiri setelah makan.

Proses Menyuapi yang Terlalu Lama

Banyak sekali orangtua yang memilih untuk memanjakan buah hati mereka dengan selalu menyuapinya saat makan. Padahal, Bunda disarankan melatih si kecil untuk makan sendiri sejak usia 8-9. Baru kemudian di usia 12 bulan, ia sudah benar-benar memilih untuk makan sendiri dan menggunakan peralatan makan dengan baik. Jangan takut si kecil justru tak mau makan, bersabarlah dalam membimbingnya dan biarkan si kecil berproses.

Memilih Makanan yang Terlalu Sehat untuknya

Orangtua selalu terperangkap pada pemikiran bahwa bayi dan anak-anak harus diberikan makanan terbaik dan menyehatkan. Di lain sisi, tren makanan sehat pun semakin berkembang, dan menekankan bahwa golongan makanan sehat adalah buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian.

Padahal makanan tersebut rendah lemak dan lebih cocok untuk orang dewasa yang tengah menjalankan diet sehat. Untuk itu, lebih bijaklah untuk urusan memberikan makanan pada si kecil ya Bun. Di usianya, mereka membutuhkan asupan lemak untuk tumbuh kembangnya.

Membiarkan Si Kecil Menggigit Makanan atau Mengonsumsi Minuman orang Dewasa

Mungkin Bunda sama sekali tak sadar ada beberapa kebiasaan orang dewasa yang justru membahayakan si kecil. Misalnya membiarkan ia menyeruput sedikit kopi atau atau memberikannya sepotong brownies. Padahal, ada bahaya yang mengintai. Kafein, soda, yang mungkin terkandung dalam minuman, akan mengancam kesehatannya.

Serta makanan manis akan membahayakan kesehatan giginya. Bahkan kalau si kecil sudah terlanjur menyukai rasanya, tak menutup kemungkinan ia akan meminta makanan itu lagi. Untuk itu, lebih berhati-hati ya Bun saat memberikan makanan atau snack pada si kecil. Di usianya, tak semua makanan disarankan untuk dikonsumsi. Terutama yang tinggi gula.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Tips Mendongeng dari Pakar Sastra Anak Indonesia

story-4220329_640

Kebanyakan orangtua, khususnya Bunda kadang kala dilema tiap kali hendak mencoba mendongeng untuk si kecil di rumah. Biasanya kita takut gagal, tak didengar, takut tak bisa berekspresi di depan anak atau hal-hal lain yang membuat kita mengurungkan niat dan tak jadi mendongeng untuk si kecil. Padahal, sebenarnya semua orangtua bisa mendongeng kok Bun.

Nah Bun, Dr.Murti Bunanta SS., MA, selaku seorang Peneliti dan Pakar Sastra Anak Indonesia yang sudah berkecimpung dalam dunia dongeng sejak puluhan tahun lalu, menyebutkan jika peran orangtua dalam mendongeng sebenarnya adalah hal positif yang patut diaperisiasi.

Ditemui di acara Peluncuran ‘Dongeng Aku dan Kau’ dari Dancow, Kamis (18/7/2019) di The Dharmawangsa, Jakarta Selatan. Beliau memberikan beberapa tips untuk bunda yang ingin mulai mendongeng buat si kecil namun masih bingung cara memulainya. Diantaranya :

  1. Ambil dan pilih cerita yang Bunda senangi, yang tak bersikap memaksa si kecil atau menakuti.
  2. Saat Bunda hendak mendongeng, jadilah seperti anak kecil dan ikut berimajinasi.
  3. Gunakan benda yang ada di sekitar sebagai objek untuk memberinya gambaran cerita yang sedang Bunda sampaikan.
  4. Bunda juga boleh mengarang cerita apa saja.
  5. Cari waktu yang nyaman untuk si kecil dan untuk Bunda juga.
  6. Jangan memaksa anak untuk mendengarkan, tetap bacakan dongeng meski ia tak memerhatikan. Perlahan, si kecil nanti akan mulai mendekat dan mendengarkan dongeng dari Bunda.
  7. Dan kalau anak terus meminta satu cerita yang sama secara terus menerus, Bunda jangan bosan, karena itu artinya ia sedang ingin memahami cerita itu secara mendalam.

Selain itu, Dr.Murti juga menyarankan, agar Bunda tak memaksa anak untuk diam atau meyelesaikan permainan yang ia sedang lakukan hanya untuk mendengar dongeng dari Bunda. Karena itu tak akan memberinya stimulasi  apa-apa.

Selain itu, pilih juga waktu yang tepat dimana Bunda sedang merasa nyaman dan senggan, dan begitu pula dengan anak. Sebab menurut beliau, anak akan lebih mudah mencerna kosa kata dan cerita yang kita sampaikan ketika ia sedang merasa nyaman dibanding ketika ia sedang mengantuk karena mendengar dongeng saat sedang tertidur pada malam hari.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Mainan Anak

Di AS, Mainan Forky Ditarik dari Pasaran Lantaran Dinilai Tak Aman

forky

Karakter baru Forky dalam film Toy Story 4 menuai polemik baru di kehidupan nyata. Terbaru, Disney telah mengeluarkan imbauan penarikan secara sukarela mainan Forky dengan alasan masalah keamanan. Bahkan Komisi Keamanan Produk Konsumen Disney melaporkan bila bagian mata Forky dapat terlepas dan menuai risiko tertelan pada anak di bawah umur tiga tahun.

Dilansir dari Aceshowbiz, Rabu, 10 Juli 2019 perusahaan akan mengembalikan dana secara penuh kepada pelanggan yang mengembalikan mainan tersebut.

“Kami mendukung pengembalian penuh mainan Forky. Tidak ada ada yang lebih penting dibanding keselamatan konsumen kami,” ujar Disney dalam sebuah pernyataan yang diunggah di Twitter pada Senin, 8 Juli. “Silakan hubungi 866-537-7649 atau kembalikan barang tersebut ke toko Disney / Disney Parks Amerika Utara.”

Mainan Forky memang dijual di Toko Disney, Disney Theme Parks, shopdisney.com dan melalui toko Disney di Amazon Marketplace dari April hingga Juni dengan harga sekitar US$20 atau Rp 281 ribu. Sekitar 80.650 mainan telah terjual di AS dan Kanada. Langkah ini diambil sebagai tindakan pencegahan karena belum ada cedera yang dilaporkan.

Dalam film Toy Story 4, Forky berjuang dengan krisis percaya diri setelah Bonnie menciptakannya dari sampah. Tubuh Forky terbuat dari senpu atau sendok garpu dan ditambahkan aksesoris lain sehingga membuatnya menjadi mainan yang utuh.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top