Kesehatan Ibu & Anak

5 Mitos Demam yang Masih Dipercayai Oleh Sebagian Besar Orangtua

adult-baby-bed-225744

Saat si kecil sedang demam, sebagai orangtua tentu Bunda tak bisa jauh-jauh dari mereka. Apalagi, saat demam biasanya anak jadi lebih rewel. Ironisnya Bun, sebagai orangtua, ada banyak dari kita yang masih salah memahami gejala dan situasi demam.

Merangkum dari beberapa sumber, ada beberapa mitos seputar demam pada anak yang masih sering diyakini oleh orangtua padahal perlu diluruskan.

Jangan Diberi Kompres Air Dingin Ya Bun

Beberapa orang tua sering memberikan kompres dingin pada anak saat si kecil demam. Cara ini dianggap bisa segera mengusir panas berlebihan di tubuh anak. Padahal ini salah. Air dingin justru dapat menyebabkan terjadinya konstriksi atau pengecilan pembuluh darah.

Belum lagi ancaman pengecilan pembuluh darah menyebabkan tidak terjadinya evaporasi di pori-pori kulit sehingga hawa panas dari dalam tubuh anak tidak bisa keluar dan menguap. Karenanya, agar lebih aman, kompres dengan air hangat demi membantu terjadinya evaporasi yang menyebabkan keluarnya hawa panas dari dalam tubuh.

Nah, bagian tubuh yang paling tepat untuk menaruh kompres adalah di dahi, punggung, lipat ketiak dan lipat selangkangan.

Orangtua Masih Sering Memberi Obat atau Antibiotik

Saat si kecil demam biasanya terjadi lantaran infeksi virus. Sementara kalau demam disertai batuk pilek, biasanya disebut common cold. Bunda perlu tahu, sebagian besar penyakit harian sejatinya disebabkan oleh virus, dan tak butuh antibiotik. Di lain sisi, antibiotik tidak mempercepat penyembuhan. Jadi Bunda perlu tahu kapan harus menggunakan antibiotik.

Orangtua Suka Mengira Demam Sebagai Tanda Anak Jadi Lebih Pintar

Ini yang masih sering salah. Demam bukanlah penyakit atau penanda anak jadi lebih pintar. Sekali lagi, pemicu demam adalah virus atau bakteri, aktivitas anak yang berlebih, kelelahan, terlalu banyak stimulasi, kurang minum dan pasca imunisasi. Dan semua penyebab tersebut tak ada korelasi sama sekali antara demam dengan akan bertambahnya kemampuan si kecil.

Jika anak demam, pasti ada sebabnya, pastikan untuk mencari tahu terlebih dahulu dengan baik apa sebabnya ya Bun. Jangan sampai kepercayaan ‘demam tanda bayi akan lebih pintar’ membuat Bunda jadi tenang-tenang saja padahal suhu tubuh si kecil sudah mencapai 40 derajat Celcius atau bahkan lebih.

Bunda Memastikan Demam Hanya dari Rabaan Tangan

Seringkali orangtua panik saat dahi anaknya mulai teraba panas. Bun, punggung tangan ibu atau orang dewasa bukanlah termometer. Pengukuran dengan punggung tangan sangatlah subyektif. Baiknya ukur suhu tubuh dengan termometer. Suhu tubuh normal yaitu 36,5-37,5 derajat Celsius, jika lebih dikatakan sumer dan jika di atas 38 derajat Celcius dikatakan demam atau panas.

Demam Katanya Bisa Memanggang Otak

Mitos semacam ini tentu salah ya Bun. Namun masih banyak orangtua yang masih percaya mitos bahwa demam dapat memanggang otak sehingga mereka jadi buru-buru memberikan obat penurun panas. Faktanya demam biasa tak akan merusak otak bayi.

Demam atas respons infeksi sebetulnya adalah cara tubuh untuk mempertahankan diri dari kuman penyerang. Bakteri dan virus sangat sensitif terhadap perubahan suhu, karenanya tubuh sengaja ‘memanaskan’ dirinya sebagai bentuk perlawanan. Umumnya demam karena respons infeksi tidak akan melebihi batas toleransi.

Namun di beberapa kasus, ada demam yang mencapah suhu 41 derajat Celcius dan berisiko merusak jaringan tubuh. Karenanya bila angka termometer sudah melebiih 38 derajat, segera hubungi dokter ya Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Bila Menyapih Dirasa Susah, Mungkin Metodenya Ada yang Salah Bunda

adorable-baby-black-and-white-2015884

Bun, kegiatan menyapih untuk Bunda tentu menjadi momen yang berat. Terlebih bagi para Bunda yang baru pertama memiliki anak. Belum lagi proses menyapih pun sangat menguras fisik, pikiran, hingga emosi. Momen seperti tak tega pada buah hati, akhirnya membuat Bunda kian mengulur waktu proses menyapih si kecil.

Biasanya, anak sudah bisa mulai disapih di usia empat tahun dua bulan. Bagi Bunda yang sedang kebingungan mencari cara menyapih yang tepat, berikut ini ada metode yang direkomendasikan oleh Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI).

Tapi yang terpenting menurutnya, anak tidak boleh dipaksa terlalu keras untuk disapih, dan Bunda juga harus siap. Jika Bunda masih belum tega, maka tandanya Bunda belum siap

Pastikan Bunda Melakukan Proses Tersebut Secara Perlahan dan Bertahap

Cara pertama yang dapat Bunda lakukan yaitu dengan mengurangi frekuensi menyusu anak. Misalnya, jika biasanya si kecil akan menyusu setiap 2 atau 3 jam sekali. Cobalah memperpanjang jaraknya menjadi 4 atau 5 jam. Cara ini mungkin akan sulit di awal, yang penting Bunda harus konsisten. Prinsipnya, jangan menawarkan dan jangan mengomelinya juga Bun saat ia masih kesulitan melepaskan kebiasaan menyusu dari payudara Bunda. Intinya, lakukan secara bertahap dan konsisten.

Pastikan Komunikasi dengan Anak Berjalan Dua Arah

Apapun cara yang Bunda terapkan saat proses menyapih, yang penting jangan lupa untuk selalu mengkomunikasikan dengan si anak ya Bun. Saat ia sudah berusia kurang lebih dua tahun, anak sudah memahami kata-kata orang tua meski masih terbatas. Beri pengertian kepada anak bahwa ia tengah dalam proses menyapih tanpa harus melakukan kebohongan.

Alihkan Perhatian Si Kecil Semampu Bunda

Menyapih si kecil butuh skill dan keteguhan dari Bunda. Salah satunya keahlian mengalihkan perhatian si kecil. Misalnya, ketika anak hendak tidur, ibu bisa membacakan buku hingga ia mengantuk dan tertidur tanpa menyusu langsung dari payudara.

Bila ia mengeluhh haus, Bunda bisa memberikannya cairan pengganti ASI seperti air putih atau jus buah yang Bunda berikan lewat gelas. Atau, Bunda juga bisa memperkenalkan susu formula atau susu pengganti lainnya jika dirasa perlu. Satu hal yang penting, hindari penggunaan dot ya Bu.

Bunda Juga bisa Melibatkan Ayah Dalam Proses Ini ya 

Bun, jangan lupa untuk melibatkan ayah dalam proses bonding dengan buah hatinya. Selama ini si kecil mungkin bisa saja bersikeras meminta menyusu di payudara ibu karena ibu berada di sisi anak.  Di momen semacam inilah ayah bisa membantu mengalihkan perhatian anak dengan mendongeng atau melakukan aktivitas lain sampai anak lelah dan tertidur atau mau minum selain ASI dari payudara ibu.

Dan yang Paling Penting, Usahakan Kondisi Si Kecil Memang Sudah Siap untuk Disapih

Yang terpenting, hindari proses menyapih anak jika si kecil memang terlihat belum siap untuk disapih. Misalnya, jika ia sangat rewel atau tengah dalam kondisi marah atau sakit. Bunda juga sebaiknya tunda dulu proses menyapih.  Jika anak tengah mengalami perubahan besar dalam lingkungannya seperti pindah rumah atau berganti pengasuh.

Memang kita akan menemukan banyak sekali dilema dan pertimbangan matang saat hendak menyapih anak, namun bila saatnya sudah tepat dan metode Bunda pun diterima anak, maka si kecil akan mengerti bahwa memang saat itulah yang tepat untuk tak lagi menyusu dari Bundanya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Event and Komunitas

Bun, Yuk Temukan Inspirasi Momen Bonding Bersama si Kecil di Zwitsaland

Kegiatan di booth Zwitsaland 4

Di tengah kesibukan dan rutinitas yang Bunda jalani. Kadang waktu bonding bersama buah hati, sangat sedikit sekali. Padahal nih bun, menurut peneliti dan para pakar kesehatan anak. Setidaknya, orangtua dan anak harus memiliki waktu bonding berkualitas minimal 15-30 menit sekali.

Sialnya, sebagai orangtua kita sering kehabisan ide untuk bisa melakukan bonding. Nah, berhubung minggu ini ada libur yang cukup panjang di akhir pekan. Kami ingin memberi rekomendasi tempat untuk Bunda bisa mencari inspirasi bonding dengan si kecil.

Yap, sebagai komitmen untuk terus mendukung orang tua dalam menjalin momen bonding, Zwitsal menghadirkan Zwitsaland yang dapat memfasilitasi dan menginspirasi Bunda dan Ayah untuk membangun momen bonding yang seru dan menyenangkan dengan buah hati lewat kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan setiap saat. Zwitsaland hadir di atrium utama Mal Gandaria City selama dua hari pada 20 dan 21 April 2019.

DSC04150

Ini bisa jadi solusi, khususnya untuk para Bunda milenials yang kerap sulit menemukan waktu bonding yang pas untuk si buah hati, di tengah padatnya kegiatan. Sebagaimana yang disampaikan oleh Karamita Darusman selaku Brand Manager Zwitsal PT.Unilever Indonesia, pada acara media pers yang diadakan di tempat serupa, Sabtu (20/4/2019)

“Para milenials parents menemukan tantangan, menjadi orangtua baru dengan runitinas harian yang bisa jadi monoton ditambah kehidupan sosial yang juga harus dijalankan. Sulit untuk menemukan ide untuk bisa bonding dengan anak, padahal seharusnya aktivitas ini bisa jadi sesuatu yang menyenangkan. Itulah kenapa Zwitsaland hadir untuk memberi mereka inspirasi”.

 

DSC04167

Istilah bonding atau kelekatan mungkin sudah hatam di telinga, tapi sudahkah bunda bisa memahaminya. Masih di tempat dan acara serupa, Chitra Annisya, M.Psi selaku Psikolog Anak dari Tiga Generasi menjelaskan,

“Dua tahun pertama kehidupan merupakan saat terbaik untuk membangunbonding antara anak dengan orang tuanya. Dengan demikian orang tua dapat menyiasati minimnya waktu bersama buah hati dengan meluangkan 15-30 menit setiap harinya untuk membangun momen bonding dengan anak serta memaksimalkan kualitas interaksi tersebut, dan memastikan hal ini berjalan secara konsisten dan berkelanjutan. Terdapat tiga elemen utama untuk menciptakan momen bonding dengan buah hati, yaitu kontak mata, sentuhan serta interaksi misalnya melalui mengobrol. Membangun bonding bisa dilakukan melalui berbagai aktivitas sehari-hari, termasuk bermain bersama. Aktivitas bermain yang sederhana pun bisa jadi momen bonding yang seru, menyenangkan, dan bermakna.”

Tak hanya itu saja, Artika Sari Devi, seorang artis dan alumni Puteri Indonesia sekaligus ibu dari dua anak, yang hadir dalam acara tersebut juga menceritakan pengalaman bonding yang kerpa  ia dan sang suami terapkan kepada kedua anaknya.

DSC04175

“Dari rutinitas harian saja, kalau dilakukan dengan konsisten bisa jadi sumber bonding itu sendiri. Saya dan suami, punya rules khurus yang memang kami jalankan berdua. Apalagi kami mengurus sendiri kedua anak kami. Salah satu aktivitas bonding yang setiap hari kami lakukan ya menemani mereka tidur. Biasa di momen ini, entah 3 hari sekali kami akan meminta mereka memberikan review atas sikap kami kepada mereka. Sebaliknya, kami memberikan reward kepada anak-anak atas sikap mereka. Dan bagi saya, ini memberikan banyak efek. Dari mulai tatapan, sentuhan, hingga interaksi dan komunikasi”.

DSC04205

Acara ini akan berlangsung hingga besok, 21 April 2019. Disana Bunda bisa datang dan menikmati aktivitas di booth-booth Zwitsaland seperti Zwitsal Sensory Corner, Zwitsal Cooking Corner, Zwitsal Science House, Zwitsal Fashion Corner, Zwitsal Traveling & Discovery dan Zwitsal Massage & Manicure Corner; juga berbagai talk showdan performance menarik di panggung. Untuk bisa masuk ke arena Zwitsaland, Bunda diwajibkan membayar tiket dalam kategory family package dengan harga yang cukup terjangkau.

Semoga Zwitsaland bisa menginspirasi para orang tua untuk selalu menciptakan momen-momen menyenangkan bersama buah hati dan mempererat bonding ya Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Mari Belajar Dari Kasus Balita di Bangkok yang Diberi Gawai Setiap Hari Sejak Usia Dua Tahun

eyes

Kejadian mengerikan harus dialami seorang balita berusia 4 tahun di Bangkok, Thailand lantaran ia harus menjalani operasi mata di usia yang sangat muda. Hal ini dipicu karena kebiasaan buruknya yakni bermain ponsel. Sang ayah, Dachar Nuysticker Chuayduang membagikan kronologi musibah yang menimpa putrinya di Facebook. Dachar mengaku melakukan sebuah kesalahan ketika ia mengenalkan putrinya pada ponsel dan iPad saat usianya baru 2 tahun.

Gadis kecil itu akhirnya kecanduan bermain gawai. Bahkan ia akan kesal dan menjerit bila tak diberi izin main ponsel. Agar putrinya tak lagi menjerit dan menangis, akhirnya Dachar membiarkannya menggunakan perangkat seluler. Bahkan saat Dachar sibuk bekerja, ia tampak memberikan gawai ke anaknya agar tak rewel. Ironisnya, hal ini membuat penglihatan sang anak makin lama semakin memburuk.

Setelah melakukan pemeriksaan, ia diharuskan menggunakan kacamata. Namun masalahnya tak berhenti disitu, yang terjadi justru penglihatannya terus menurun. Dokter mengatakan dia harus menjalani operasi mata untuk memulihkan penglihatannya, jika tidak matanya bisa buta.

Menurut hasil diagnosis dokter, balita tersebut menderita mata malas dengan satu mata miring atau juling, salah satu komplikasi paling serius dari miopi dan astigmatisme. Jika kondisi ini terus berlangsung, mata anak itu tidak akan bisa pulih.

Para peneliti di Korea Selatan mengungkapkan, anak-anak yang sering menggunakan ponsel pintar atau tablet beresiko besar mengalami mata juling sementara. Selain durasi pemakaian yang terlalu sering, jarak yang terlalu dekat dengan mata kemungkinan menjadi penyebab gangguan juling atau mata yang tidak searah.

Balita tersebut pun mau tak mau harus melewati operasi mata. Kini tugas orangtuanya adalah membatasi waktu anaknya untuk tak bermain gaway atau menonton layar televisi lantaran cahaya yang dipancarkan perangkat ini pun akan mempengaruhi matanya.

Bunda perlu belajar dari kasus ini dimana anak kecil sebaiknya jangan dulu dikenalkan pada gawai di usianya yang terlalu dini. Lebih jauh lagi, penyakit mata malas terjadi ketika salah satu mata tidak berkembang dengan benar, misalnya salah satu mata rabun jauh dan yang lainnya tidak. Hal ini membuat otak kebingungan karena menerima dua visual yang membingungkan yakni gambar yang buram dan jelas. Pada akhirnya, otak pun jadi bekerja ekstra dan memilih gambar yang lebih jelas dan menghiraukan visual yang kabur.

Kondisi ini, bila dibiarkan tanpa penanganan, maka bisa memperbesar peluang si kecil mengalami kerusakan mata permanen saat usianya memasuki 6-10 tahun. Parahnya, kondisi ini pun dapat menyebabkan kebutaan pada mata malas karena otak mengabaikan rangsangan yang dikirim dari bagian mata tersebut.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top