Parenting

Hai Orangtua, Ini 3 Dampakk Negatif Tak Memberikan ASI eksklusif

tanpaAsi_lakukanini

Memberikan ASI itu sangat penting. Ibu mana yang tak ingin memberikan ASI untuk bayinya.  Mendapatkan ASI adalah Setiap Hak bayi.

Menolak menyusui bayi mungkin saja terjadi pada beberapa Ibu dengan berbagai alasan. Sebelumnyanya, SayangiAnak.com berbagi alasan Ketika Ibu Tak Menyusui Bayi

tanpaAsi_lakukaniniAkan tetapi ada Ibu yang tak bisa memberikan bayi ASI dengan  alasan khusus semisal terinfeksi HIV atau mengidap Hepatitis B aktif, berarti si Ibu telah menelantarkan bayinya. Lantas, apa yang sebaiknya dilakukan jika tak bisa memberikan ASI

– Bila benar-benar ibu tak bisa memberikan ASI karena kasus khusus, hilangkan rasa bersalah dalam hati. Agar tumbuh kembang si kecil tetap optimal, berikan cairan pengganti ASI yang terbaik dan stimulasi yang tepat. Sementara kelekatan emosi antara ibu dan bayi dapat diperoleh dengan selalu menjalin kemunikasi yang baik dan hubungan yang sehat

– Jika masalahnya masih bisa diatasi, sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk mendapat pemahaman dan teknik yang benar sehingga masalah yang muncul bisa diatasi. Secara prinsip tak ada ibu yang tak bisa memberikan ASI.

 3 Dampakk Negatif Tak Memberikan ASI eksklusif

Jika bayi tak mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan, inilah 3 dampakk negatif yang muncul jika tak memberikan ASI :

1. Kesalahan
ASI adalah cairan kehidupan yang paling lengkap kangdungan nutriennya dan memiliki antibodi. Sehingga bila tak mendapat ASI, bayi akan tubuh lebih ringkih.

2. Kecedasan
Penelitian membuktikan, bayi-bayi tak mendapat ASI eksklusif, di usia 12 tahun, IQ-nya lebih rendah dibanding bayi yang mendapat ASI eksklusif. ini karena minimnya proses pengaktifan simpul-simpul saraf selama menyusi.

3. Emosi
Hubungan emosi dan kelekatan bayi-bayi yang tak mendapatkan ASI eksklusif dengan ibunya tak seintens mereka yang mendapatkannya, karena proses terbentuknya jembatan emosi tak berjalan maksimal. Minimnya dekapan, elusan, pandangan mata dan pancaran ASI membuat jalinan emoso keduanya berjaraka.

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Parenting Indonesia Update dari SayangiAnak.com | Sayangi Anak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Bila Menyapih Dirasa Susah, Mungkin Metodenya Ada yang Salah Bunda

adorable-baby-black-and-white-2015884

Bun, kegiatan menyapih untuk Bunda tentu menjadi momen yang berat. Terlebih bagi para Bunda yang baru pertama memiliki anak. Belum lagi proses menyapih pun sangat menguras fisik, pikiran, hingga emosi. Momen seperti tak tega pada buah hati, akhirnya membuat Bunda kian mengulur waktu proses menyapih si kecil.

Biasanya, anak sudah bisa mulai disapih di usia empat tahun dua bulan. Bagi Bunda yang sedang kebingungan mencari cara menyapih yang tepat, berikut ini ada metode yang direkomendasikan oleh Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI).

Tapi yang terpenting menurutnya, anak tidak boleh dipaksa terlalu keras untuk disapih, dan Bunda juga harus siap. Jika Bunda masih belum tega, maka tandanya Bunda belum siap

Pastikan Bunda Melakukan Proses Tersebut Secara Perlahan dan Bertahap

Cara pertama yang dapat Bunda lakukan yaitu dengan mengurangi frekuensi menyusu anak. Misalnya, jika biasanya si kecil akan menyusu setiap 2 atau 3 jam sekali. Cobalah memperpanjang jaraknya menjadi 4 atau 5 jam. Cara ini mungkin akan sulit di awal, yang penting Bunda harus konsisten. Prinsipnya, jangan menawarkan dan jangan mengomelinya juga Bun saat ia masih kesulitan melepaskan kebiasaan menyusu dari payudara Bunda. Intinya, lakukan secara bertahap dan konsisten.

Pastikan Komunikasi dengan Anak Berjalan Dua Arah

Apapun cara yang Bunda terapkan saat proses menyapih, yang penting jangan lupa untuk selalu mengkomunikasikan dengan si anak ya Bun. Saat ia sudah berusia kurang lebih dua tahun, anak sudah memahami kata-kata orang tua meski masih terbatas. Beri pengertian kepada anak bahwa ia tengah dalam proses menyapih tanpa harus melakukan kebohongan.

Alihkan Perhatian Si Kecil Semampu Bunda

Menyapih si kecil butuh skill dan keteguhan dari Bunda. Salah satunya keahlian mengalihkan perhatian si kecil. Misalnya, ketika anak hendak tidur, ibu bisa membacakan buku hingga ia mengantuk dan tertidur tanpa menyusu langsung dari payudara.

Bila ia mengeluhh haus, Bunda bisa memberikannya cairan pengganti ASI seperti air putih atau jus buah yang Bunda berikan lewat gelas. Atau, Bunda juga bisa memperkenalkan susu formula atau susu pengganti lainnya jika dirasa perlu. Satu hal yang penting, hindari penggunaan dot ya Bu.

Bunda Juga bisa Melibatkan Ayah Dalam Proses Ini ya 

Bun, jangan lupa untuk melibatkan ayah dalam proses bonding dengan buah hatinya. Selama ini si kecil mungkin bisa saja bersikeras meminta menyusu di payudara ibu karena ibu berada di sisi anak.  Di momen semacam inilah ayah bisa membantu mengalihkan perhatian anak dengan mendongeng atau melakukan aktivitas lain sampai anak lelah dan tertidur atau mau minum selain ASI dari payudara ibu.

Dan yang Paling Penting, Usahakan Kondisi Si Kecil Memang Sudah Siap untuk Disapih

Yang terpenting, hindari proses menyapih anak jika si kecil memang terlihat belum siap untuk disapih. Misalnya, jika ia sangat rewel atau tengah dalam kondisi marah atau sakit. Bunda juga sebaiknya tunda dulu proses menyapih.  Jika anak tengah mengalami perubahan besar dalam lingkungannya seperti pindah rumah atau berganti pengasuh.

Memang kita akan menemukan banyak sekali dilema dan pertimbangan matang saat hendak menyapih anak, namun bila saatnya sudah tepat dan metode Bunda pun diterima anak, maka si kecil akan mengerti bahwa memang saat itulah yang tepat untuk tak lagi menyusu dari Bundanya.

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Parenting Indonesia Update dari SayangiAnak.com | Sayangi Anak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Produksi ASI Bunda Sering Berkurang, Kira-kira Kenapa Ya?

testtt1

Tak semua ibu dikaruniai kemampuan untuk menghasilkan ASI yang melimpah ya Bun. Bahkan ada yang justru sedang khawatir karena produksi ASI-nya justru menurun. Kalau Bunda sedang mengalami masa-masa ini, tak usah khawatir berkepanjangan Bun. Produksi ASI yang menurun tentu ada sebabnya. Ada banyak kebiasaan yang mungkin tak Bunda sadari sehingga suplai ASI berkurang. Ini beberapa diantaranya:

Lelah Setelah Persalinan

Wajar kalau Bunda merasa lelah setelah persalinan. Apalagi di masa itu, Bunda harus menyusui sekaligus memulihkan diri. Tak jarang, kebanyakan ibu akhirnya justru mengalami penurunan produksi ASI di masa-masa ini. Yup Bun, masa transisi ini jadi salah satu penyebab produksi ASI berkurang. Karenanya, berikan waktu untuk tubuh Bunda agar beristirahat degan cukup ya Bun.

Bunda Punya Riwayat Penyakit Tertentu

Mengalami penyakit tertentu seperti infeksi biasanya bisa menyebabkan tubuh Bunda jadi memproduksi lebih sedikit ASI. Nah, bila Bunda pun merasakan gejala sakit tertentu bersamaan dengan produksi ASI yang menurun, segera temui dokter untuk menjalani pemeriksaan ya Bun.

Sebab mungkin kalau Bunda mengalami infeksi tertentu, dokter mungkin akan meresepkan antibiotik untuk mengobati infeksi tersebut. Pastikan dokter tahu kalau Bunda sedang menyusui sehingga pemberian obatnya disesuaikan dengan kondisi tubuh Bunda.

Minum Terlalu Banyak Kafein

Konsumsi soda, kopi, teh, coklat, atau minuman berkafein lainnya harusnya aman untuk dikonsumsi. Tapi kalau dikonsumsinya secara berlebihan, hal ini bisa membuat produksi ASI menurun lho Bun. Selain itu, k kafein yang Bunda minum juga bisa memengaruhi kesehatan si kecil lantaran bisa terserap oleh ASI dan masuk ke dalam tubuh si kecil saat menyusui. Akibatnya, bayi bisa mengalami masalah tidur dan mudah rewel.

Produksi ASI Menurun Kalau Bunda Masih Sering Merokok dan Minum Alkohol

Kebiasaan merokok dapat mengganggu pelepasan oksitosin di dalam tubuh ibu lho. Bunda perlu tahu, oksitosin diketahui menjadi hormon yang merangsang respon let-down-reflex, yaitu refleks ibu untuk mengeluarkan ASI dari dalam payudara dan mengalir keluar dari tubuh sampai masuk ke mulut bayi. Jika refleks let-down tidak berfungsi dengan baik, ASI tidak akan mengalir keluar dari payudara ibu dan pada akhirnya kebutuhan ASI untuk si kecil tidak terpenuhi.

Serupa dengan rokok, alkohol juga dapat menghalangi respon let-down reflex pada ibu. Selain itu, alkohol bahkan dapat mengubah rasa ASI yang tidak disukai oleh si kecil. Akibatnya, si kecil menjadi malas menyusui. Tidak hanya menurunkan suplai ASI, minum alkohol berlebihan juga dapat membuat si kecil berisiko mengalami keterlambatan perkembangan.

Mengonsumsi Pil KB

Kalau Bunda mulai mengonsumsi pil KB untuk mencegah kehamilan selanjutnya, maka efek sampingnya bisa mempengaruhi suplai ASI Bunda. Hal ini karena pil KB mengandung hormon ekstrogen yang dapat menurunkan produksi susu. Karenanya penting sekali berkonsultasi dengan dokter demi mendapatkan alat kontrasepsi yang aman saat menyusui tanpa mengurangi produksi ASI.

Bunda Mungkin Belum Mengelola Stress dengan Baik

Menjadi seorang ibu tentu wajib menjaga kesehatan fisik dan psikis. Pasalnya, tekanan yang menyebabkan seseorang stress fisik, emosional, maupun psikologis dapat mengurangi produksi ASI nih bun. Sekecil apapun perubahan emosional tersebut bisa mengganggu refleks let-down saat menyusui. Penyebab stress lainnya seperti rasa gelisah, rasa sakit, masalah finansial, atau masalah dengan suami pun bisa jadi faktor yang bisa menurunkan produksi ASI lho Bun.

Mungkin Bunda Terlalu Banyak Konsumsi Rempah-rempahan Juga

Mengutip dair Verywell, beberapa ramuan herbal pun dapat menurunkan jumlah ASI kalau Bunda mengonsumsinya secara berlebihan. Karenanya, segera konsultasikan pada dokter bila Bunda rutin mengonsumsi obat herbal tertentu.

Atau Karena Bunda Sedang Mengonsumsi Obat-obatan Tertentu?

Hati-hati lho Bun kalau selama menyusui, Bunda masih mengonsumsi obat-obatan tertentu. Pasalnya, beberapa jenis obat – baik obat resep maupun obat bebas – dapat mengganggu hormon oksitosin, yang mengatur produksi ASI. Obat-obatan seperti obat alergi, obat flu, dan diuretik dapat menurunkan suplai ASI.

Hamil Saat Bunda Masih Aktif Menyusui pun Bisa Jadi Penyebab Produksi ASI Menurun

Produksi ASI memang cenderung menurun bila Anda sedang hamil meski masih aktif menyusui. Hal ini disebabkan karena hormon kehamilan yang diketahui dapat menurunkan produksi ASI lho Bun.

Urusan Pola Makan Juga Mempengaruhi Produksi ASI

Sering begadang akibat menyusui hingga tengah malam membuat Bunda pun wajib memenuhi kebutuhan makanan dan hidrasinya dengan baik. Tapi kenyataannya, banyak ibu yang ternyata yang masih kurang asupan gizi dan nutrisi. Padahal hal ini yang kemudian membuat produksi ASI berkurang.

Karenanya, perhatikan lagi pola makan Bunda ya. Terutama demi memenuhi kebutuhan asupan makanan dan cairan setiap hari agar produksi ASI Anda tetap terjaga. Makanan sehat dan asupan cairan yang cukup sangat penting untuk menjaga kesehatan ibu dan bayinya.

 

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Parenting Indonesia Update dari SayangiAnak.com | Sayangi Anak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Cara Jitu Manajemen ASI Eksklusif untuk Ibu Bekerja


Setelah masa cuti selama tiga bulan terlewati, mau tak mau Bunda harus kembali bekerja. Semua hal yang dahulu jadi kegiatan sehari-hari, kini akan kembali berjalan seperti biasa. Namun kali ini tantangannya mungkin agak sedikit berbeda, karena ada si buah hati yang masih membutuhkan ASI dari bunda untuk asupannya.

Terlebih bagi Bunda yang baru memiliki anak pertama, tentu ini akan jadi hal yang mendebarkan. Karena mengingat ini pengalaman pertama memberikan ASI. Momen ini akan jadi membuat Bunda didera bermacam-macam perasaan. Mulai dari takut, bingung, khawatir stok ASI tak akan cukup, hingga pada kualitas ASI yang tentu berpengaruh tumbuh kembangnya.

Tapi tentunya beragam kekhawatiran itu tak akan menghentikan Bunda memberikan ASI. Curahan kasih sayang lewat ASI yang terbagi selama ini masih membalut romansa Bunda dan si kecil. Pengalaman memberikan asupan terbaik lewat ASI pasti ingin bunda lakukan hingga waktu paling optimal. Nah, supaya pengalaman memberi ASI ini bisa tetap berlangsung ketika bunda melanjutkan aktivitas bekerja, berikut beberapa hal yang perlu dicermati.

BreastFeeding_1_054_EBP_rgb

Langkah Awal Tenangkan Diri, Karena Relaksnya Perasaan Akan Mempengaruhi Produksi ASI

Ketika melakukannya pertama kali memang tidak akan mudah. Bunda bisa saja merasa gugup, takut dan bahkan malu. Belum lagi bayang-bayang si kecil akan melintas di kepala yang bisa jadi membuat Bunda merasa sedih dan jadi lebih tertekan.

Padahal kuncinya adalah Ibu Nyaman ASI Lancar. Karena masalah kecemasan seperti ini bisa mempengaruhi produksi ASI yang keluar loh Bun. Kondisi tubuh yang sedang stres atau tak nyaman, bisa berujung pada berhentinya produksi ASI.

Karena itu, hal pertama yang harus Bunda lakukan adalah menenangkan perasaan dan pikiran terlebih dahulu. Tarik napas yang dalam dan resapi kondisi yang sedang bunda jalani. Bayangkan kebahagian si kecil dan sehatnya pertumbuhannya ketika bisa meminum ASI. Intinya, tidak perlu memaksakan diri, lakukan sebagaimana membuat Bunda nyaman.

 

Pelajari Interval Waktu Yang Pas Untuk Melakukan Pumping, Sekaligus Menjaga Stock Untuk Si Kecil

Untuk Bunda menyusui yang tinggal di rumah hanya perlu memerah ASI paling tidak setiap 8 jam sekali. Itu dilakukan jika produksi ASI terus berlimpah sementara konsumsi susu si kecil tidak sebanyak itu. Tujuannya agar payudara lebih nyaman, mencegah mastitis atau peradangan jaringan payudara, sekaligus untuk terus menjaga produksi ASI.

Lain ceritanya untuk Bunda yang bekerja. Menurut pakar laktasi, dr Wiyarni Pambudi, SpA, memerah ASI perlu dilakukan setiap 3 – 4 jam sekali atau sesuai dengan kebiasaan menyusui bayi. Selain untuk alasan mencegah peradangan dan menjaga produksi, percepatan interval ini juga bertujuan untuk menyiapkan stok ASI pada hari kerja berikutnya untuk bayi di rumah.

Cobalah mengkomunikasikan interval ini kepada orang-orang di sekeliling Bunda bekerja. Tujuannya apa? Agar kegiatan pumping ASI ini bisa berjalan mulus di sela-sela aktivitas bekerja. Jadwal meeting yang diatur rekan kantor misalnya, akan disesuaikan dengan interval ini. Beberapa deadline juga akan diatur menghindari interval ini.

 

Jika Memang Tempat Kerja Tak Punya Ruang Khusus Untuk Pumping, Bunda Bisa Mencari Ruangan Yang Benar-Benar Nyaman

Dari sekian banyaknya perusahaan di negara kita, rasanya masih sedikit kantor yang memang benar-benar peduli pada ibu menyusui. Ini terlihat dari kecilnya angka kantor-kantor yang menyediakan ruang khusus untuk pegawainya yang juga seorang ibu menyusui.

Tapi Bunda tak boleh putus asa, setidaknya pasti ada beberapa ruang yang bisa dimanfaatkan dengan baik. Bunda bisa memilih untuk menggunakan ruang istirahat yang diperuntukkan bagi perempuan, atau ruangan di mushola yang khusus diperuntukkan untuk perempuan bila ingin merasa lebih nyaman. Perhatikan pula kondisi sekitar, pastikan bersih dan tidak akan mengundang bakteri pada ASI yang akan disimpan.

 

Gunakan Metode Sight, Smell, Touch, Taste, Hearing dan Mind Untuk Membantu Proses Pumping Yang Nyaman

Bunda mungkin akan bingung jika harus memerah ASI tanpa stimulus apa-apa. Terlebih jika melakukannya bukan di ruangan yang desain interiornya dan suasananya khusus diperuntukan bagi ibu menyusui

Solusi mudahnya bunda bisa menggunakan metode Sight, Smell, Touch, Taste, Hearing dan Mind. Seperti apa itu? Strategi sight adalah melihat foto bayi yang disimpan di dalam handphone atau yang dicetak. Strategi smell dengan cara mencium aroma-aroma khas bayi seperti bedak bayi. Strategi touch adalah meraba payudara seolah-olah bayi sedang menyusui, strategi taste dengan cara merasakan kenyamanan ruangan, strategi hearing adalah dengan memutar suara-suara ocehan bayi dan strategi mind adalah membayangkan bayinya sendiri.

Dengan menerapkan metode ini Bunda akan dengan cepat menyesuaikan diri dengan proses pumping. Efeknya bunda akan lebih nyaman dan proses pumping bisa berjalan dengan lebih lancar.

asi menyusui

 

Peralatan Pumping Bak Amunisi Saat Perang, Jangan Sampai Ketinggalan Bun!

Banyak dari Bunda yang kebingungan mencari tahu teknik yang tepat untuk memompa ASI. Untungnya saat ini sudah ada alat yang didesain untuk memerah ASI sekaligus membuat Bunda tetap merasa nyaman. Misalnya Bunda bisa melirik produk dari Philips Avent untuk urusan yang pompa ASI ini. Asiknya Bunda bisa memilih produk Philips Avent yang manual atau yang sudah dilengkapi dengan fasilitas elektrik.

Contohnya tipe Comfort Manual Breast Pump SCF330/20. Tipe satu ini punya bantal pijat lembut dengan rasa hangat untuk menciptakan rangsangan yang lembut. Breastpump nyaman yang satu ini juga sudah termasuk botol (125ml) dan dot untuk memudahkan penyimpanan sekaligus proses menyusui.

Sementara untuk Bunda yang produksi ASI-nya banyak sementara waktu pumping lebih sedikit, bisa mencoba tipe Comfort Double Electric Pump SCF334/02. Tipe electric ini punya pompa ganda sehingga bisa memproduksi ASI dalam waktu lebih singkat. Meski begitu kenyamanan Bunda tetap terjaga karena metode pemerasannya dapat diatur dalam tiga tingkatan. Nah, Bunda bisa memilih dan menyesuaikan kebutuhan Bunda dengan beragam produk Philips Avent Indonesia secara lengkap di sini.

 

Setelah Diperah, Penyimpanan Dan Penyajian ASI juga perlu diperhatikan Ya Bunda

Tentunya yang tak kalah penting adalah proses penyimpanannya ya Bunda. Karena Produksi ASI yang baik tentunya akan menjadi sia-sia jika kita tak memahami cara penyimpanan yang tepat.

Perlu diperhatikan, pada suhu ruang sekitar 23 -25 derajat Celcius, ASI hanya bisa awet selama 4- 6 jam saja. Pada suhu 15 derajat Celcius, ASI dapat bertahan sampai 24 jam. Pada suhu kulkas sekitar 4 derajat Celcius, ASI akan bertahan sampai 3 – 8 hari.

Setelah diperah, ASI sebaiknya disimpan dalam wadah botol kaca, stainless atau plastik. Ingat ya Bunda seluruh wadah penyimpanan itu harus terbuat dari bahan khusus foodgrade. Agar tak ragu Bunda bisa juga memilih produk dari Philips Avent yang sudah menjamin kualitasnya.

Untuk pengalaman natural si kecil Bunda bisa saja memilihkan tipe botol Natural Feeding Bottle SCF690/27 dari Philips Avent. Karena produk satu ini sudah dilengkapi dot yang lembut, anti kolik yang tentunya nyaman untuk si buah hati. Bunda juga bisa memilih produk peralatan ibu bayi lainnya dari Philips Avent di sini.

 

Dan Bila Sedang Berada Bersamanya, Utamakan Untuk Menyusui Si Kecil Secara Langsung Ya Bun!

Hal penting lain yang memang perlu untuk Bunda lakukan adalah menyusui anak secara langsung saat sedang bersama. Baik itu pada malam hari atau ketika sedang berada di rumah saat akhir pekan. Bunda juga bisa dengan leluasa menyusui si kecil hingga dia merasa kenyang, sesaat sebelum berangkat kerja.

Bunda tak perlu merasa takut kalau aktivitas ini akan menganggu kinerja kita di kantor. Selama dilakukan dengan porsi dan manajemen waktu yang tepat, tentu tak akan menjadi masalah. Kita hanya perlu mempersiapkan diri dengan hal-hal lain yang mungkin terjadi. Yuk Bunda kita persiapkan untuk ASI si buah hati!

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Parenting Indonesia Update dari SayangiAnak.com | Sayangi Anak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top