Parenting

10 Cara Membuat Anak Tidur Di Kamar Sendiri

tiduranakkunci

Mengubah kebiasaan tidur untuk anak-anak adalah tugas yang sulit bagi semua orang tua. Hal ini seperti peribahasa ‘menggarami luka’ bagi anak, karena akan sangat menyakitkan, bisa jadi melibatkan air mata, dan Anda mungkin harus memutuskan sendiri apakah Anda lebih suka melakukannya dengan cepat atau dengan transisi yang perlahan.

Banyak orangtua memilih untuk memiliki anak tidur di tempat tidur mereka. Pilihan ini dapat sangat membatasi bagi orang tua, karena anak menjadi tergantung pada kehadiran orang tua agar dapat tidur di malam hari. Dengan kata lain, beberapa orang tua lebih memilih tidur bersama anak seterusnya dan bersedia mengorbankan kemerdekaan mereka untuk mewujudkannya.

Banyak ahli menyarankan bahwa kunci untuk membangun rutinitas tidur adalah dengan memberitahukan anak mengenai harapan Anda dan menjaga konsistensi. Memang benar bahwa perubahan kecil dalam rutinitas (seperti anak yang sakit atau bermimpi buruk) dapat menyebabkan rutinaitas ini kembal ke awal, tapi itulah tantangan pengasuhan

tiduranakkunci

Jika anak Anda tidak pernah tidur sendiri, tugas ini akan menjadi lebih sulit lagi. Bahkan, hal itu akan menjadi lebih buruk sebelum menjadi lebih baik. Anda akan kehilangan waktu tidur, ada yang mungkina akan menangis, dan Anda mungkin menemukan diri Anda ragu-ragu atas keputusan Anda saat Anda mendengarkan tangisan anak di malam yang larut. Jadi, sebelum itu terjadi, pastikan bahwa Anda merasa cukup kuat tentang untuk melalui semua ujian dalam mengubah rutinitas ini.

Inilah sebabnya mengapa penting untuk berbicara tentang rencana Anda. Pastikan Anda memiliki pasangan yang memiliki komitmen yang sama, baik saat mengambil keputusan ataupun dalam proses menjalaninya. Bicaralah pula dengan tentang apa harapan Anda. Tapi pada rencana Anda di malam hari, dan gunakan hari berikutnya untuk mengevaluasi strategi Anda. Jika kemudian Anda masih menemukan anak kembali tidur di tempat tidur Anda, cobalah proses dua langkah: satu atau dua minggu di lantai di kamar Anda, diikuti dengan transisi ke kamar mereka sendiri.

Berikut 10 tips untuk  membuat anak tidur di kamar sendiri:

1. Berkomunikasi. Pastikan anak Anda mengerti harapan baru Anda dengan baik sebelum tidur. Jangan gunakan tengah malam sebagai waktu untuk negosiasi. Lakukan hal ini di siang atau hari, maupun sebelum tidur.

2. Akui ketakutan dan kecemasan anak Anda. Jangan mengecilkan betapa sulitnya ini bagi mereka. Anda dapat menunjukkan empati untuk tetap menjaga batas-batas Anda. Pikirkan hal-hal yang dapat menawarkan kenyamanan selama transisi, seperti lampu tidur yang lucu atau membacakan buku tambahan.

3. Pastikan untuk memberikan kenyamanan ekstra, kasih sayang, dan perhatian pada siang hari. Jika Anda hanya memeluk pada waktu tidur, mereka akan cenderung ingin selalu tidur bersama Anda. Tawarkan pelukan ketika menonton atau bermain bersama dan kurangi itu di malam hari untuk mengisi kebutuhan mereka akan kasih sayang.

4. Gunakan sistem reward dan tawarkan hadiah. Mungkin anak Anda bisa mendapatkan tamasya khusus atau satu set mainan baru setelah seminggu tidur di kamar sendiri. Anda dapat meningkatkan kesulitan hingga sebulan

5. Transisi Menggunakan Tenda. Mulailah dengan kompromi bahwa anak bisa tinggal di kamar tapi tidak bisa tidur di tempat tidur orang tua. Dirikanlah tenda anak di kaki tempat tidur dan biarkan dia keluar kemah setiap malam. Setelah dia mulai terbiasa dengan hal itu, pindahkan tenda keluar dari kamar orang tua menuju kamarnya. Jika ia pindah ke tempat tidur orang tua, pindahkan ke tenda kembali sampai ia menyadari bahwa itu lebih nyaman tidur di kamar sendiri.

6. Usir Monster. Beberapa anak-anak tidak ingin tidur di kamar mereka karena mereka takut. Jadi, cari tahu apa yang membuat mereka takut! Kadang-kadang, ketakutan itu sederhana. Bisa jadi yang membuat mereka takur adalah memindahkan beberapa perabot yang memantulkan bayangan seperti monter

7. Tenang dan pindahkan. Hal ini memang sulit, tapi sangat bekerja. Setiap kali anak-anak keluar dari tempat tidur, bawa mereka kembali dan dengan tenang menempatkan mereka di tempat tidur mereka. Kata kunci di sini adalah tenang. Jangan berteriak. Jangan mengomel. Bahkan, tidak mengatakan mengatakan sepatah kata pun.

8. Tinggallah di dalam kamar sampai mereka tertidur. Trik ini memang mengambil banyak waktu, namun beberapa ibu menunggui anak mereka sampai tertidur. Caranya? Setiap malam, bergeraklah lebih jauh Jadi malam pertama, tinggallah di dalam ruangan di sisi mereka. Malam kedua, pindahlah ke tengah ruangan. Malam ketiga, di ambang pintu. Malam keempat, di luar ruangan dengan pintu terbuka. Dan seterusnya. Dengan proses ini, Anda dapat mengendalikan diri untuk tidak berteriak atau terlibat dengan anak Anda.

9. Menutup Pintu. Namun tentu saja, jangan mengunc Jauhkan godaan untuk membuka pintu ke kamar anak atau membiarkannya karena untuk membuatnya merasa lebih baik.

10. Tentukan waktu yang tepat untuk memulai. Apakah ada transisi lain yang terjadi? Mungkin layak untuk menunda program tidur beda kamr ini satu atau dua minggu ke depan jika terdapat hal-hal yang besar terjadi dalam hidup anak Anda.

Apa pun yang Anda putuskan, gunakan strategi yang tepat untuk keluarga Anda, dan kemudian taati hal itu. Satu hal yang disepakati para ahli adalah jangan biarkan anak tidur di tempat tidur Anda di atas pukul 10 malam. Tapi ijinkan mereka melakukannya pada pukul 5:00 dini hari untuk mengembangkan kebiasaan bangun hanya untuk bergabung dengan Anda ketika dia tahu waktu yang tepat.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Terkesan Biasa Sih, Namun Membiarkan Buah Hati Anda Tidur Di Dada Bisa Mengakibatkan Sindrom Kematian Bayi Mendadak!

anaktidur

“Dada ayah dan ibu adalah tempat terbaik untuk si kecil bisa terlelap”

Dalam hal pendampingan tidur untuk mengasuh si kecil, kalimat ini tentu sangat sering kita dengarkan. Digambarkan sebagai alternatif untuk bisa membantu pada orang tua dalam hal menidurkan bayi, terlebih ketika si kecil sedang rewel. Sayangnya kebiasaan membiarkan buah hati tidur di dada orang tua ternyata memiliki bahaya tersendiri.

Mungkin satu atau dua orangtua yang pernah melakukannya akan menggeleng tanda tak setuju, karena mereka pernah melakukannya dan si kecil ternyata tidak mendapat masalah. Namun sebagai orangtua kita tentu tetap harus waspada, karena kebiasaan ini justru berbahaya.

Menyajikan Pemandangan Yang Manis, Hal Ini Justru Sering Berakhir Dengan Tragis

Selain membuatnya terlelap lebih cepat kebiasaan ini jadi sesuatu yang tentu terlihat manis. Namun Lullaby Trust, sebuah organisasi yang memberi saran keamanan tidur pada bayi. Mengatakan bahwa keputusan orangtua yang membiarkan bayi terlelap di dadanya adalah sesuatu yang berbahaya. Karena ketika si kecil sedang lelap di dada  kita, resiko SIDS pada bayi meningkat sebanyak 50%.

Hal ini dibuktikan oleh sebuah kasus yang telah terjadi pada seorang dokter bernama Sam Hanke. Beliau bercerita bahwa pada tahun 2010 ia telah mengalami pengalaman pahit karena telah kehilangan bayinya yang bernama Charlie. Ia menuturkan kejadian itu bermula saat dirinya sedang tiduran di sofa sambil membawa bayinya di dalam dekapan dadanya. Dokter Hanke membiarkan Charlie tertidur dengan posisi tengkurap di dadanya. Karena ikut merasa nyaman dirinya ikut tertidur, tapi ketika terbangun bayinya sudah tak lagi membuka matanya. Setelah dicari tahu penyebabnya ternyata Charlie mengalami Sudden Infant Death Syndrome atau yang sering dikenal sebagai sidrom kematian mendadak.

Lalu Apa Sebenarnya Sudden Infant Death Syndrome Itu?

SIDS - Sudden infant death syndrome

Sindrom ini adalah sebuah keadaan yang menjelaskan kematian pada bayi secara mendadak, meski kelihatannya sedang baik-baik saja. Selain itu hal ini juga disebut sebagai salah satu penyebab kematian yang paling sering ditemukan, pada bayi yang berusia antara 2 minggu – 1 tahun. Sedikitnya 3 dari 2000 bayi mengalami SIDS ketika mereka sedang tidur.

Meski penyebab ketidaknormalan itu masih belum ditemukan dengan jelas. Salah satu bukti statistik menunjukkan bahwa tidur tengkurap pada bayi adalah penyebabnya. Meski meletakkan bayi pada dada kita tak selalu dengan posisi tengkurap, namun para peneliti tidak menyarankan hal ini untuk dilakukan. Apalagi untuk si kecil yang masih berusia 2 minggu hingga 1 tahun. Hal ini juga dikuatkan oleh juru bicara dari Lullaby Trust yang mengatakan bahwa, “Tidur di sofa atau kursi dengan bayi adalah salah satu situasi paling beresiko”.

Fakta Ini Tentu Membuat Kita Lebih Hati-Hati, Terlebih Ketika Menemani Si Kecil Tidur

Untuk penanganan yang satu ini kita memang harus ekstra hati-hati, jangan biarkan sembarangan orang tidur dengan si kecil. Sebagai orangtua, kita tentu tak ingin memberikan pengaruh buruk, apalagi hingga membahayakan buah hati. Oleh karena itu, jika anda atau pasangan adalah seorang perokok, maka sebisa mungkin tidak menyentuh anak secara intim dan tidur sekamar dengannya.

Meski tak terlihat kita ada ribuan sumber bakteri dan penyakit yang mungkin bisa tertular pada anak. Mengingat ketahanan tubuhnya yang masih sangat lemah, tidak ada salahnya jika kita membatasi aktivitas untuk tak membiarkannnya tersentuh oleh sembarangan orang. Bahkan oleh orangtuanya sendiri sekalipun, demi menjaga kesehatan dan keselamatannya.

Hal Lain Yang Patut Diperhatikan Adalah Lebih Jeli Dalam Memilih Tempat Tidur Untuk Si Kecil

Ini jadi salah satu kunci penting dalam menjaganya dari hal-hal yang mungkin membahayakan kesehatan si kecil. Red Nose, sebuah lembaga nirlaba di Australia mengungkapkan beberapa tips dan trik aman untuk bayi yang sedang tidur yang mungkin bisa kita jadikan patokan. Menurutnya sebaiknya orangtua memilih kasur atau tempat tidur yang kencang, bersih dan memiliki permukaan yang rasa. Hindari pemakaian selimut yang terlalu tebal dan tak sesuai dengan panjang tubuh si kecil. Selanjutnya hindari pula penggunaan bantal dan mainan yang terlalu banyak di sekitar tempat tidur. Serta jangan sesekali membiarkan anak tertidur dengan posisi tengkurap, atau memakaikan selimut hingga ke permukaan wajahnya.

Berhentilah Berpikir Bahwa Mendekap Si Kecil Di Dada Adalah Sesuatu Yang Baik

Pilihan kita untuk tidur dengan si kecil memang jadi pembahasan yang cukup kontroversial. Dibeberapa budaya, pemandangan bayi yang tertidur di dada orangtua adalah hal biasa, termasuk di negara kita. Namun di beberapa negara barat hal ini justru bukanlah sesuatu yang direkomendasikan. Jika memang meletakkannya di dada membuatnya tenang dan bisa tertidur lebih lelap, segera pindahkan si kecil ke tempat tidurnya. Karena meski dada orangtua adalah tempat terhangat untuknya, ini bukanlah sesuatu yang baik untuk kesehatannya.

Meski menurut anda satu-satunya cara untuk membantu si kecil untuk lebih cepat terlelap dengan menaruhnya di dada. Charlie’s Kids sebuah yayasan yang juga milik Dr. Sam Hanke, menyarankan para orangtua untuk selalu meletakkan bayi tidur di ranjang sendiri, baik saat siang maupun malam hari.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Ketahui Rahasia Penting Tumbuh Kembang Anak Dari Sebuah Sentuhan

Merawat dan membesarkan anak rasanya sudah menjadi prioritas kita sebagai orangtua. Mulai dari makanan yang dikonsumsi, perawatan tubuh yang didapatkannya hingga hal-hal lain yang akan membantu tumbuh kembangnya tak pernah luput dari perhatian orangtua. Dari begitu banyak hal yang bisa kita berikan kepadanya ada satu hal yang sebenarnya terlihat sederhana tapi memiliki manfaat luar biasa bagi si kecil, yaitu stimulasi dari sebuah sentuhan.

Bukan hanya ampuh untuk mendekatkan orang tua dengan anak. Hal ini juga jadi isyarat cinta dan kasih sayang orangtua untuknya. Setiap satu sentuhan yang kita berikan akan memberikan ketenangan dan kesenangan baginya. Hal ini juga sudah dibuktikan oleh sebuah riset yang mengatakan bahwa, “Interaksi orangtua dengan anak tidak hanya penting untuk menjalin kedekatan tapi penting juga untuk perkembangan fisik dan sosialnya”. Hal ini tentu membuat kita semakin penasaran, apa saja hal baik apa yang sebenarnya bisa didapat dari sebuah sentuhan. Untuk menjawab rasa penasaran Bunda, ulasan di bawah ini akan menjadi jawababnya.

Sebuah Sentuhan Dari Orangtua Mampu Menstimulasi Perkembangan Si Kecil

Ketika kita sudah membiasakan diri untuk memberikan si kecil sebuah sentuhan dengan rasa cinta, itu berarti kita telah membantunya untuk tumbuh dan berkembang. Setiap sentuhan yang kita berikan akan merangsang terbentuknya hormon pertumbuhan dan beberapa enzim tertentu yang berperan penting dalam masa tumbuh kembang anak. Dimana enzim tersebut akan memberikan rasa sensitif terhadap hormon pertumbuhan, serta mengoptimalkan setiap pertumbuhan dan perkembangan si kecil nantinya.

Bukti nyata yang bisa kita lihat dari hebatnya sebuah sentuhan orangtua adalah kondisi bayi yang terlahir prematur. Untuk bisa tumbuh dan berkembang lebih pesat ia butuh banyak sentuhan terutama dari orangtuanya. Hal ini dipercaya akan meningkatkan berat badannya hingga 47% lebih cepat dibanding anak yang jarang mendapatkan sentuhan. Sentuhan dari orang tua  juga mampu memperkuat ikatan batin dengan anak.

Bahkan Mampu Menghantarkan Energi Positif Bagi Sikap Dan Perilaku Selama Tumbuh Kembangnya

Hasil dari beberapa studi mengungkapkan bahwa seorang anak yang dirawat dengan banyak sentuhan akan lebih mudah untuk diarahkan terutama dalam hal perilakunya. Tak hanya perilakunya, hal ini juga akan merambat kepada beberapa kebiasaan hidup anak. Mulai dari waktu sebelum tidur yang lebih mudah, karena kita tidak akan menjumpai kerewelan-kerewelan kecil darinya. Membuatnya mengerti akan sesuatu yang ingin kita sampaikan, contoh kecilnya ketika ia menangis lalu kita mengusap-usap tubuhnya, anak akan mengartikan itu sebagai perintah bahwa dirinya tidak boleh menangis lagi. Disamping karena rasa nyaman yang dimiliki, ia akan lebih merasa tenang dan bahagia. Ini adalah bukti nyata dari sebuah manfaat baik dari sebuah sentuhan. Kelak ia akan tumbuh sebagai anak yang mudah mengendalikan diri serta jadi pribadi yang hangat dan ramah pada sekelilingnya.

Sebuah Sentuhan Akan Membantu Anak Untuk Meningkatkan Rasa Percaya Diri Yang Dimilikinya Sejak Dini

Percaya diri adalah sesuatu yang sangat penting bagi semua orang tak terkecuali si kecil. Kabar baiknya sentuhan dari orangtua ternyata bisa membantu anak untuk menemukan rasa percaya diri yang dimilikinya. Vera Itabiliana Hadiwidjojo dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (LPTUI) juga membenarkan hal ini. Katanya, “ Sentuhan ibu kepada si kecil mampu memberikan kenyamanan sekaligus membangun emosi antara orang tua dengan anak”. Jika selama ini masih ada beberapa ungkapan yang mengatakan, jika sentuhan hanya akan membuat anak manja. Kenyataan yang sebenarnya ternyata berbanding terbalik, justru ini jadi sesuatu yang akan membantu dirinya. Perlakuan yang diterimanya membuatnya merasa berharga, untuk itu ia akan tumbuh sebagai anak dengan rasa percaya diri yang kuat. Setiap sentuhan yang kita berikan pada si kecil itu artinya satu energi positif telah didapatkannya dari kita.

Pun Sentuhan Adalah Alat Penghantar Yang Akan Merangsang Perkembangan Otaknya

Menurut Dr. Nadja Reissland dari Jurusan Psikologi di Durham University, Inggris, ada lima langkah sentuhan yang akan membantu merangsang tumbuh kembang otak pada si kecil. Mulai dari menyentuh, menggendong, memeluk, mencium hingga memijatnya. Meski disampaikan dengan cara-cara yang berbeda tapi inilah cara menyentuh anak yang dianjurkan. Selain itu rasa nyaman yang telah diterima oleh si kecil akan membuatnya merasa lebih baik, perkembangan otaknya dapat lebih optimal karena minimnya produksi hormon kortisol. Suatu  hormon yang hanya akan diproduksi otak ketika seseorang merasa stres. Semakin tinggi produksi hormon kortisol  pada si kecil tentu akan berpengaruh buruk baginya. Bahkan bisa meningkatkan risiko terganggunya jaringan otak pada hippocampus atau bagian otak yang menyimpan ingatan. Itu berarti dirinya akan mengalami hambatan dalam menjalani proses belajar. Untuk itu banyak memberinya sentuhan akan membantu tumbuh kembang otaknya.

Menumbuhkan Ikatan Batin Yang Kuat Antara Orangtua Dengan Dirinya Adalah Kebaikan Yang Diperoleh Dari Sebuah Sentuhan

Memberikan sentuhan tak hanya memberi pengaruh baik pada anak, tapi juga untuk orangtuanya. Ikatan atau bonding yang terjalin selama bersentuhan akan menguatkan ikatan batin. Sebagai orangtua kita akan lebih mudah memahami satiap gerak dan bahasa tubuhnya. Mengerti ketika tidak menyukai sesuatu dan paham jika dirinya memang sedang ingin dekat dengan kita. Dari hal ini akan lahir komunikasi antara orangtua dan si kecil. Dengan kata lain kita akan jauh lebih sensitif untuk hal-hal yang dirasakan anak. Begitupula dengannya yang akan lebih responsif lagi untuk semua hal yang kita sampaikan. Saat komunikasi dan jalinan batin ini berjalan dengan baik, maka secara keseluruhan tumbuh kembangnya akan jauh lebih optimal.

Bukan hanya sentuhan dari orangtuanya, sesekali mintalah anggota keluarga yang lain untuk bersentuhan langsung dengan si kecil demi menumbuhkan ikatan batin yang jauh lebih kuat lagi. Sebuah sentuhan sederhana yang terlihat sepele ini nyatanya mampu memberikan manfaat luar biasa untuknya, hal ini akan menjadi benteng yang kokoh bagi dirinya ketika kelak tumbuh dewasa.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Karena pola tidur yang baik akan mengembangakan kinerja otaknya, lakukan ini agar anak anda tidak tidur larut malam

tidurbayi

Pola tidur anak memang sangat berpengaruh besar dalam perkembangannya, baik dalam perkembangan kejiwaannya ataupun perkembangan otaknya. Menurut seorang dokter anak yang banyak melakukan penelitian seputar masalah tidur pada anak, Judith A. Owens, M.D., MPH, anak balita membutuhkan 12-14 jam dalam sehari semalam untuk tidur. Jika si kecil tidur 10-12 jam diwaktu malam, Upayakan agar mereka tidur siang selama 2 jam. Seiring dengan pertambahan usia anak balita, jam tidur siang biasanya akan berkurang atau bahkan mereka tidak tidur siang lagi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 50% anak usia 4 tahun masih perlu tidur siang, sedang ketika usia mereka menginjak 5 tahun, 70% di antaranya sudah berhenti tidur siang.

 

Tetapi tidak terlepas dengan gangguan tidur yang dialami oleh anak, sehingga orang tua mempunyai tugas lebih untuk mengatasi supaya anak bisa tidur dengan pola yang teratur dan cukup sehingga tidak mengganggu perkembangan jiwa dan kesehatan anak.

 

Sebelum mengatasi, kenali dulu penyebab kenapa anak memiliki gangguan pola tidurnya

Ada berbagai macam penyebab mengapa anak anda memilih untuk tidur larut malam, seperti belum mengantk karena tidur siang yang terlalu lama, kekhawatiran berpisah dengan orang tua, ada tekanan emosi yang tidak bisa diungkapkan sehingga menyebabkan sang anak gelisah dan susah tidur atau kemungkinan anak anda sedang mengembangkan onotominya sehingga sang anak merasa punya kekuatan untuk mengatur dirinya sehingga dia mencoba melawan perintah orang lain. Dan untuk orang tua yang bekerja kemungkinan alasan anak suka tidur larut adalah menunggu kehadiran orang tuanya di rumah.

 

Selain susah tidur ada kemungkinan si anak terbangun di tengah malam, dan anda bisa atasi dengan cara ini

Ketika anak bisa tidur malam sesuai dengan waktunya, bukan berarti si anak tidak memiliki kemungkinan untuk gangguan tidurnya. Bisa jadi anak terbangun di tengah malam, hal ini wajar jika anak terbangun karena ingin buang air kecil atau haus. Akan tetapi ada juga yang terbangun dan tidak ingin kembali tidur, hal itu terjadi ada kemungkinan dia mengalami kekecewaan sebelum tertidur, bisa juga mimpi buruk sehingga tidak ingin kembali tidur, atau terlalu banyak makan sehingga pencernaan tetap bekerja, aktivitas di siang hari berlebihan sehingga membuat si anak susah tidur.

 

Setelah mengetahui penyebabnya, mulai lah atasi dengan baik sehingga pola tidurnya bisa teratur kembali

Setelah memperhatikan penyebab mengapa anak anda sulit tidur ataupun terbangun di tengah malam. Anda bisa mengatasi beberapa hal tersebut dengan beberapa cara seperti, lakukan pembiasaan waktu tidur yang teratur secara konsisten sehingga melatih jam biologis anak akan mengikuti, berikan waktu pada saat mengajak anak tidur seperti mengajaknya berganti piyama, cuci tangan serta menggosok giginya, membacakan cerita di tempat tidur juga bisa menjadi salah satu cara agar dia bisa terlelap.

Lakukan dengan suasana menjelang tidur yang mendukung seperti pencahayaan yang redup serta tidak ada lagi aktivitas yang memancing anak untuk aktif. Jangan lupa untuk memperhatikan kenyaman yang anak butuhkan di kamar untuk memancingnya agar terlelap dengan cepat. Dan hal yang tidak kalah penting adalah dengan memperhatikan jam tidur siang sang anak, karena semakin lama dia tidur di siang hari maka akan semakin lama dia mengantuk di malam hari.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top